Kaba Agam

Willem Rampangilei Sebut Agam Cerdas Sikapi Bencana

Yogyakarta, KABA12.com — Kepala BNPB RI Willem Rampangilei sebut kabupaten Agam cerdas sikapi penanganan risiko bencana, menerapkan pola sistematis strategis.

Bahkan, BNPB menilai Pemkab.Agam berani bersikap, cepat tanggap dan pro-aktif dalam mengantisipasi dampak yang berpotensi merugikan masyarakat.

Hal itu disebutkan kepala BNPB Willem Rampagilei menjawab kaba12.com, disela diskusi rapat koordinasi nasional forum pengurangan risiko bencana di the Rich Jogja Hotel Yogyakarta,Senin sore kemarin.

Disebutkan, BNPB memantau dan mempelajari langkah-langkah yang dilakukan setiap daerah dalam penanganan pasca bencana termasuk pengurangan risiko bencana yang dilakukan berbagai daerah di Indonesia.

Kabupaten Agam,sebutnya tidak hanya punya langkah taktis strategis bahkan berani mengambil kebijakan tegas untuk mengantisipasi dampak dan potensi bencana, seperti halnya pemotongan tebing yang rawan, pengerukan aliran sungai dan memindahkan warga yang terancam dampak bencana.

Disisi lain, kepala BNPB itu mengungkap salut karena Pemkab Agam melalui bupati Indracatri yang sejak awal,bahkan menjadi daerah kabupaten  pertama di Indonesia yang menggagas terbentuknya forum pengurangan risiko bencana (FPRB), yang dijabarkan dengan program pembentukan berbagai komunitas siaga bencana, baik komunitas wartawan siaga bencana (KWSB), kelompok siaga bencana(KSB) di seluruh nagari, sekolah siaga bencana, pramuka siaga bencana, dan komunitas lain.

” Yang membanggakan masyarakat didorong untuk bersiap sejak dini, menghadapi pasca bencana dengan membentuk UMKM siaga bencana,ini.luar biasa dan patut dicontoh,” sebut Willem Rampangilei.

Ata dasar itulah,kabupaten Agam menjadi salah satu daerah percontohan dalam konteks penanganan pasca  bencana di Indonesia dan BNPB memberi penghargaan khusus.

Kepala BNPB Indonesia itu program dan strategi yang diterapkan bisa lebih dimaksimalkan, karena kabupaten Agam menjadi salah satu daerah yang dikenal sebagai supermarket bencana,dengan potensi ancaman longsor,banjir bandang, gempa,gunung berapi, tsunami, likuifaksi, dan puting beliung, ” kami berharap, pemerintah daerah dan masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan,” harap Willem Rampangilei.
HARMEN

To Top