Bukittinggi, KABA12.com —Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Gorontalo studi banding ke Pemko Bukittinggi, Kamis (28/09). Rombongan berjumlah 28 orang ini diterima Sekretaris Daerah Kota Bukittinggi, Yuen Karnova Ketua TPID, di ruang mini theater perpustakaan Proklamator Bung Hatta.
Pimpinan rombongan, Akhmad Kosasih, Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Gorontalo melaporkan, rombongan merupakan gabungan TPID Gorontalo, TPID Pemko Gorontalo, Pemkab Gorontalo, Pemkab Gorontalo Utara, Pemkab Boalemo dan Pemkab Ohuwato serta TPID Pemkab Bone Bolango.
Dijelaskan, Sumatera Barat sebagai tempat belajar pengendalian inflasi, karena Sumbar salah satu daerah yang mendapat penghargaan sebagai pengelola Inflasi terbaik pada rakornas beberapa waktu lalu.
“Sumbar sebagai daerah pengelola inflasi terbaik tentu tingkat inflasinya terjaga, harga stabil dan tentunya juga akan berpengaruh pada tingkat daya beli masyarakat. Jika inflasinya tinggi dan daya beli masyarakat berkurang tentu ini akan meningkatkan angka kemiskinan,” ujar Akhmad Kosasih.
Menurutnya, bawang, rica dan tomat menjadi komoditas penyumbang inflasi di Gorontalo yang sering bergejolak. “Karena bawang merah itu masih didatangkan dari luar, sehingga kondisi alam sangat mempengaruhi harga komoditas tersebut,” ulasnya.
Sementara itu Ketua TPID Bukittinggi, Yuen Karnova mengatakan, bawang merah dan cabai serta jengkol, menjadi peyumbang inflasi di Bukittinggi.
Kota Wisata juga membutuhkan kerja sama dengan daerah penghasil untuk ketersediaan pasokan kebutuhan bahan pangan.
“Karena lahan pertanian tidak sampai lima persen, untuk membantu memenuhi kebutuhan dilakukan gerakan tanam cabai dengan membagikan bibit cabai melalui kelompok dasa wisma dan memanfaatkan pekarangan untuk menanam tanaman produktif,” jelas Yuen yang juga Sekda Bukittinggi itu.
Untuk mengendalikan inflasi, pemko dibantu sejumlah pihak terus mengajak warga untuk tidak bersikap konsumtif. Langkah lain upaya pengendalian inflasi oleh TPID Kota Bukittinggi melalui Pembinaan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), optimalisasi lahan pekarangan, pemantauan harga pasar, pemberitaan melalui media massa, pelaksanaan operasi pasar, survey harga pasar serta sidak pasar di saat Ramadhan.
(Ophik)
