PLTA Maninjau Klarifikasi Soal Bukaan Pintu Air Bendungan, Manajemen: Sudah Melebihi Batas Normal

Koto Malintang, KABA12 — Manajemen PLTA Maninjau memberikan klarifikasi terkait pembukaan pintu air yang telah dilakukan dalam beberapa waktu terakhir menyusul meningkatnya debit air Danau Maninjau akibat curah hujan tinggi.

Klarifikasi ini disampaikan terkait pemberitaan yang tayang di media KABA12.com tanggal 9 Januari 2026, dengan judul “Debit Air Danau Maninjau Naik, Pemukiman Terendam, PLTA Diminta Bertanggung Jawab”.

Tim Leader Pemeliharaan PLTA Maninjau, Ahmad Afandi, menegaskan bahwa pembukaan pintu air saat ini telah melampaui batas normal yang sebelumnya disepakati bersama masyarakat.

Dijelaskan,batas maksimal elevasi Danau Maninjau berada pada angka 464,00 meter di atas permukaan laut (mdpl). Saat ini, elevasi danau berada di angka 463,99 mdpl, yang berarti masih dalam kondisi normal.

“Bukaan pintu air bendungan saat ini sudah melebihi batas normal, yakni mencapai diangka 155 centimeter. Pembukaan dilakukan secara perlahan agar tidak menimbulkan dampak buruk di wilayah hilir,” ujarnya kepada wartawan di Pintu Air PLTA Maninjau, Muko-muko, Nagari Koto Malintang, Senin (12/1).

Ia menyampaikan, pasca bencana banjir bandang dan curah hujan tinggi yang melanda wilayah Salingka Danau Maninjau beberapa waktu lalu, juga menyebabkan elevasi danau sempat meningkat hingga 464,15 mdpl. Kondisi ini mengakibatkan limpahan air di bendung (dam weir) PLTA Maninjau.

Dengan kondisi itu, sampai saat ini pihaknya masih melakukan pembukaan pintu air secara perlahan untuk menurunkan level elevasi air danau yang masih tinggi.

Menurutnya, PLTA Maninjau sebelumnya telah melakukan musyawarah bersama pemuka adat dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi penurunan elevasi air danau agar tidak berdampak pada warga di kawasan salingka danau. Dari hasil kesepakatan awal, disetujui pembukaan pintu bawah setinggi 15 sentimeter dan pintu atas 30 sentimeter, dengan batas maksimal bukaan 45 sentimeter.

“Namun, melihat kondisi air yang masih tinggi, kami bersama manajemen PLN Bukittinggi berkoordinasi untuk mempercepat penurunan elevasi danau dengan tetap memperhatikan kondisi wilayah hilir. Jika pintu dibuka terlalu besar secara tiba-tiba, dikhawatirkan akan menimbulkan banjir di daerah hilir seperti di Lubuk Basung dan Tiku,”ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini bukaan pintu air telah dilakukan secara bertahap hingga mencapai 155 sentimeter, jauh melebihi kesepakatan awal. Langkah tersebut diambil agar elevasi danau dapat segera turun untuk mengatasi rendaman banjir di kawasan permukiman warga sekitar tepian Danau Maninjau.

“Kami membuka pintu air secara perlahan agar masyarakat di hilir tidak terdampak. Ini demi keselamatan bersama,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, sejak 26 November hingga saat ini, empat unit turbin PLTA Maninjau tetap beroperasi dengan debit air mencapai sekitar 2,7 juta meter kubik untuk keempat turbin tersebut.

Sementara itu, Anggota DPRD Agam, Alber mengatakan sejak awal bencana pada akhir November 2025, masyarakat di salingka danau terdampak akibat tingginya debit air. Namun berkat kerja sama antara tokoh masyarakat, pemerintah nagari, dan PLN, pembukaan pintu air dilakukan melalui musyawarah dengan mempertimbangkan kondisi hulu dan hilir.

“Alhamdulillah, sampai saat ini pembukaan pintu air secara bertahap tidak menimbulkan dampak banjir di wilayah hilir seperti di Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara,” katanya.

Politisi Partai Demokrat ini juga mengapresiasi upaya manajemen PLTA Maninjau yang membuka pintu air bendungan hingga yang melebihi batas normal, dan telah mencapai diangka 155 centimeter. Selain itu, masyarakat dan tokoh masyarakat juga diberikan akses ke lokasi oleh pihak PLTA untuk melihat pembukaan pintu air secara langsung.

“Ini adalah kerjasama yang luar biasa sehingga pembukaan pintu air sudah melebihi batas normal. Tokoh masyarakat juga diberikan akses untuk melihat langsung proses pembukaan pintu air bendungan PLTA di Muko- muko,” jelasnya.

Wali Nagari Koto Malintang, Hendra Yanto, menyampaikan bahwa pembukaan pintu air dilakukan secara bertahap karena harus mempertimbangkan dampak di wilayah hulu dan hilir.

“Dari sebelumnya 45 sentimeter, kini bukaan sudah mencapai 155 sentimeter. Artinya elevasi danau yang sebelumnya berada di atas standar kini sudah kembali normal,” katanya.

Meski demikian, Hendra mengakui masih terdapat puluhan rumah warga yang terendam akibat tingginya air Danau Maninjau. Tercatat sebanyak 72 unit rumah di Nagari Koto Malintang serta beberapa lahan pertanian di kawasan salingka danau terdampak genangan air.

“Kita berharap level elevasi air danau secepatnya turun. Sebab kondisi masyarakat di pinggir danau masih merasa khawatir, apalagi saat terjadi badai dan gelombang tinggi, karena mengganggu kenyamanan mereka,” ujarnya.

(BRYAN)

0Shares