Bukittinggi, KABA12.com — Salah seorang Penyuluh Agama Islam Fungsional Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi Drs. Joni menjadikan Persatuan Sopir Tigo Baleh (PERSOTIB) sebagai salah satu objek binaan kepenyuluhannya.
Drs. Joni tokoh masyarakat Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh sekaligus Ketua MUI Kecamatan ini, menyampaikan, pekerjaan sebagai seorang sopir merupakan salah satu pekerjaan yang membutuhkan waktu ekstra. Sehingga sedikit kesempatan untuk memperdalam ilmu pengetahuan khususnya di bidang keagamaan, sehingga hal ini pula yang menjadi dasar baginya untuk menjadikan Persatuan sopir Tigo Baleh (PERSOTIB) Kota Bukittinggi sebagai salah satu lokus binaannya disamping Kelompok Keluarga Harapan, PKK, Pekerja Sosial Masyarakat dan yang lainnya.
“Sebelumnya ada permintaan dari ketua Persatuan Sopir Tigo Baleh (PERSOTIB) Kota Bukittinggi untuk membantu memberikan penyuluhan Keagamaan terkait praktek Ibadah dan arahan dari Bapak Kakan Kemenag Kota Bukittinggi agar setiap Penyuluh Agama Islam Kemenag Bukittinggi harus keluar dari zona nyaman tidak hanya berkutat dengan binaan penyuluh yang nyaman seperti kelompok Majlis Taklim, di Masjid, di mushala atau ditempat-tempat yang minim tantangan lainnya. Hal inilah yang membuat kami termotivasi dan semangat dalam memberikan penyluhan karena kelompok inilah yang sangat membutuhkan sentuhan penyuluhan,” tutur Penyuluh Agama ini.
Selanjutnya, Penyuluh yang terkenal gigih ini menyampaikan, anggota PERSOTIB Kota Bukittinggi sangat merespon positif materi ibadah dan Akhlak yang disampaikan.
Hal ini dapat dilihat dari antusias dan semangat mereka pada pertemuan perdana Senin, 13 Januari 2020 bertempat di kantor PERSOTIB yang dihadiri 15 orang di sela-sela kesibukan mereka.
Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi melalui Kasi Bimas Islam H. Gazali memberikan apresiasi tinggi atas terobosan dan inovasi yang dilakukan salah seorang Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi ini sekaligus mengimbau agar Penyuluh Agama Islam di kota Bukittinggi ini baik PNS dan Non PNS agar senantiasa memperluas jangkauan penyuluhan, jangan hanya berkutat dengan binaan-binaan kepenyuluhan yang terbilang cari aman saja.
“Sudah saatnya para penyuluh berani keluar dari zona nyaman, seperti menberi penyuluhan di lembaga pemasyaraktan serta komunitas-komunitas tertentu yang benar-benar membutuhkan kehadiran penyuluhan agama Islam. Apabila Penyuluh berada di zona nyaman saja, maka eksistensi penyuluh tersebut kurang dirasakan di tengah-tengah masyarakat. Penyuluh Agama Islam tidak hanya pintar tapi juga harus kreatif dan memberikan manfaat secara luas,” jelasnya.
(Ophik)
