Peran Strategis Pemerintah-Masyarakat-Pelaku Usaha Dalam PRB

Medan, KABA12.com — Beberapa kejadian bencana dengan dampak korban dan kerugian cukup besar telah terjadi di seantero wilayah Indonesia pada medio September dan Oktober 2018 ini.

Tiga jenis bencana yang terjadi bersamaan di Sulawesi Tengah, yaitu gempabumi, tsunami, dan likuifaksi telah menyebabkan lebih dari 2 ribu orang meninggal dunia dan 70 ribu rumah rusak.

Di Mandailing Natal, Sumatera Utara banjir bandang melanda dan 17 orang pun menjadi korban.

Pada saat yang sama, 10 daerah kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat juga terdampak banjir dan longsor yang diakibatkan curah hujan yang cukup tinggi. Sementara di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi Selatan mengalami kekeringan menyebabkan jutaan orang terdampak.

Ancaman berbagai jenis bencana terus mengintai Indonesia dari berbagai penjuru. Tanpa pengkajian, pengelolaan, dan pengurangan risiko bencana yang memadai, maka korban jiwa dan harta benda akan terus berjatuhan.

Peningkatan kesadaran masyarakat akan pengurangan risiko bencana menjadi satu hal yang diperlukan. Hal ini juga sesuai dengan aksi global untuk pengurangan risko bencana yang tertuang dalam kerangka kerja Sendai untuk pengurangan risiko bencana (Sendai Framework for Disaster Risk Reduction) 2015-2030.

Target yang ingin dicapai dari kerangka kerja ini adalah untuk mengurangi korban jiwa, mengurangi warga terdampak, mengurangi kerugian ekonomi dan sosial serta mengurangi kerusakan infrastruktur kritis bilamana bencana terjadi.

Upaya peningkatan kesadaran masyarakat tersebut perlu dilakukan terus menerus dan berkesinambungan. Oleh sebab itu, maka setiap tahun BNPB menyelenggarakan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Pada tahun 2018 ini, BNPB bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Platform Nasional PRB, menyelenggarakan Peringatan Bulan PRB 2018 di Kota Medan dan sekitarnya di Sumatera Utara.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Yunaidi mengatakan, peringatan bulan PRB tahun 2018 ini memiliki makna yang sangat penting karena bersamaan dengan upaya masif tanggap darurat yang sedang dilakukan oleh BNPB untuk menangani bencana di Sulawesi Tengah dan rehabilitasi rekonstruksi di Lombok.

Oleh karena itu, tema yang diangkat pada peringatan tahun ini adalah ‘aksi solidaritas untuk NTB dan Sulteng melalui kemitraan pemerintah, masyarakat, dan lembaga usaha’.

“Tema tersebut sesuai dengan semangat upaya penanggulangan bencana yang melibatkan tiga pihak, yaitu pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha,” ujarnya.

Sementara Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Wisnu Widjaja menyebutkan, peringatan bulan PRB tahun 2018 diharapkan dapat menjadi upaya membangun kesadaran pentingnya kesiapan dan pencegahan untuk meningkatkan strategi pengelolaan risiko bencana di tataran nasional dan daerah. Semua pihak di tingkat pusat hingga daerah diharapkan untuk berkomitmen dalam pengarusutamaan pengelolaan risiko bencana dalam program, pembangunan, dan anggaran daerah.

“Perlu penguatan dari masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha untuk memperlancar dan menyukseskan upaya penanggulangan bencana,” tegas Wisnu.

Sebelumnya, peringatan Bulan PRB telah dilakukan di Kota Mataram, NTB (2013), Kota Bengkulu, Bengkulu (2014), Kota Surakarta, Jawa Tengah (2015), Kota Manado, Sulawesi Utara (2016), dan Sorong, Papua Barat (2017).

(Jaswit)

0Shares