Oleh : Harmen
Hitam-Putih, adalah kata yang selalu terpakai dalam aktivitas keseharian yang diharfiahkan sebagai bentuk keseriusan dalam bersikap.
Hitam, kadang diartian sebagai sikap diam, tidak memberi dukungan, tidak merespon bahkan “membekukan” pandangan pada sesuatu yang menurut nurani tidak sesuai, bahkan tidak patut untuk diikuti.
Putih, menjadi salah satu wujud keseriusan, keikhlasan bahkan komitmen yang kuat untuk menyatakan sikap, memberi dukungan bahkan menjadi kerangka dasar dalam memperlihatkan loyalitas terhadap apa yang pedoman.
Terkadang dua kata untuk menjadi rumit untuk dimaknai. Apalagi jika harus membaur dalam aktivitas sosial-politik, yang banyak menyebut sebagai ranah abu-abu, yang berpedoman pada kepentingan.
Politik memang kepentingan. Namun, hal itu tidak sepenuhnya bisa menjadi acuan bagi para loyalis yang menjadi “pemandu” sebagai pihak yang dianggap benar. Terkadang, pembenaran justru dilatari oleh pemenuhan kepentingan bahkan merasa selalu “kenyang” dengan dampak layanan yang diberikan.
Walau hal itu, terkadang menjadi bahan cibiran sebagian pihak, namun sikap abu-abu dalam nuansa hitam putih beraktivitas, menjadi hal yang lumrah, apalagi saat ini ditengah kekinian kondisi yang galau, yang justru menganggap hal-hal tabu, tak lagi harus menjadi sebuah penghormatan untuk dijunjung tinggi. Semua memang akan dihadapkan pada kepentingan.
Namun, kepentingan kerap menjadi abai disaat semua hal yang menjadi pembangun harap, justru banyak kehilangan arah. Apalagi, dalam konteks terkini kondisi bangsa ini, dampak pandemic yang merambah di semua lini, pengaruhnya sangat luar biasa, bahkan mengaburkan kepentingan yang mestinya mengarah pada satu titik yang kerap disebut “matahari”.
Alangkah luarbiasanya, jika kepentingan yang mestinya diusung, harus menjadi sebuah dilemma, disaat matahari yang diciptakan Allah SWT, hanya 1, tapi justru bertambah menjadi 2 atau 3, yang semua membangun kepentingan sendiri, dengan pola dan strategi sendiri yang terkadang hanya mengumbar janji-janji. Alangkah luarbiasanya.(*)