Tujuan Membaca Al Quran

Syaikh Hafidzahullah mengatakan bahwa sesungguhnya kandungan yang paling agung yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah tentang makrifatullah ‘Azza wa Jalla (pengenalan tentang Allah), juga pengenalan tentang nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang luhur.

Karena perkara-perkara yang dikandung oleh Al-Qur’an mencakup tiga perkara yang besar.

Yang pertama yaitu pengenalan tentang Tuhan yang berhak disembah yaitu Allah ‘Azza wa Jalla juga tentang nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Maka dalam Al-Qur’an ada pengenalan tentang Allah ‘Azza wa Jalla sehingga seseorang jika mengenal Allah ‘Azza wa Jalla hatinya akan semakin mengagungkan, memuliakan, mencintai dan berharap serta takut hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Perkara yang kedua yang dikandung oleh Al-Qur’an yaitu pengenalan tentang jalan yang menyampaikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu dengan cara mengikuti perintah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Yang ketiga yang dikandung oleh Al-Qur’an yaitu penjelasan tentang apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan dari pahala bagi orang yang mentaatiNya dan hukuman bagi orang yang mendurhakaiNya. Ini adalah kandungan-kandungan Al-Qur’an secara umum.

Dan kandungan yang paling agung yaitu pengenalan tentang Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu surat Al-Ikhlas sama dengan sepertiga Al-Qur’an. Karena surat Al-Ikhlas dimurnikan untuk penjelasan tentang sifat Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka seseorang yang membaca Al-Qur’an hendaklah ia berusaha memperhatikan, merenungi makna ayat-ayat yang dibaca, mengetahui perintah-perintah dan larangan-larangan sehingga ia bisa berusaha melaksanakan perintah-perintah Al-Qur’an dan menjauhi larangan-laranganNya.

Berusaha untuk mentadaburi Al-Qur’an, memahami makna Al Qur’an ketika shalat adalah sesuatu perkara yang dapat mendatangkan kekhusyu’an dan menghadirkan hati seseorang. Dan inilah yang menyebabkan seorang hamba bisa mendapatkan pahala yang sempurna ketika dia shalat. Karena seseorang tidak akan mendapatkan pahala dari shalatnya kecuali yang ia pahami dari bacaan shalatnya. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, “Dan keutamaan-keutamaan bagi orang yang membaca Al-Qur’an mencakup orang yang membaca Al-Qur’an ketika shalat dan ini lebih utama daripada ketika orang mentadaburi Al-Qur’an atau membaca Al-Qur’an pada selain shalat.”

Berobat dengan Al-Qur’an tidak sekedar dari penyakit badan. akan tetapi berobat dengan Al-Qur’an juga mencakup penyakit yang maknawiyah seperti penyakit syahwat dan penyakit syubhat juga kelalaian dari ketaatan, juga penyakit-penyakit yang lain. Dan mentadaburi dan memperhatikan serta merenungi kitabullah ‘Azza wa Jalla dan mengamalkan isinya adalah obat dari semua penyakit tersebut.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴿٢٩﴾
“Kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh berkah agar dimengerti ayat-ayatnya dan agar menjadi pengingat bagi orang yang mempunyai akal.” (QS. Shad[38]: 29)
إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿٣﴾
“Sesungguhnya Kami jadikan Al-Qur’an itu berbahasa Arab agar kalian memahaminya.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 3)

Berkata Al-Hasan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk dipahami, untuk dimengerti, untuk diamalkan, akan tetapi manusia menjadikan amalan itu sekedar membacanya.

Maka tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba baik untuk kehidupan dunianya dan kehidupan akhiratnya dan lebih dekat kepada keselamatannya dari mentadabburi Al-Qur’an, memanjangkan waktu untuk berusaha memahami Al-Qur’an, mengkonsentrasikan pikiran untuk memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an. Karena semua hal ini akan menghasilkan seorang bisa mengetahui rambu-rambu kebaikan dan keburukan secara mendetail. Dia akan mengetahui jalan-jalan, sebab-sebab dan buah- buah serta tempat kembali orang yang melakukan kebaikan dan orang yang melakukan keburukan. Ia pun akan mendapatkan ditangannya kunci-kunci kebahagiaan dan ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Keimanan akan menjadi kuat dalam hatinya dan rukun- rukun keimanan tersebut akan semakin mantap.

Juga ia akan melihat hakikat dunia dan akhirat. Ia akan mengerti tentang surga dan neraka, melihat dengan hatinya, bahkan ia bisa seakan-akan hadir di tengah umat-umat sebelum kita, ia akan mengetahui apa yang Allah lakukan kepada umat-umat sebelum kita, ia akan mengerti pelajaran- pelajaran yang terjadi pada umat-umat sebelum kita.

Dan ia mengetahui keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia akan mengetahui Dzat, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia bisa mengetahui apa yang Allah cintai dan apa yang Allah murkai, ia bisa mengetahui jalan yang menyampaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang didapatkan bagi orang yang telah sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga ia bisa mengetahui penghalang dan penyakit-penyakit dalam perjalanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Juga dengan mentadabburi Al-Qur’an seorang bisa mengetahui tentang jiwa dan sifat-sifat jiwa tersebut, perusak-perusak amalan, pembenar-pemenar amalan, ia pun bisa mengetahui jalan penduduk surga dan jalan penduduk neraka, amalan-amalan penduduk surga dan penduduk neraka, keadaan mereka, ciri-ciri dan tanda-tanda mereka, juga tingkatan orang yang berbahagia dan orang yang sengsara serta pembagian makhluk dan kapan mereka bisa bersatu dan kapan mereka bisa bercerai-berai.

(Sumber: radiorodja.com)

0Shares