Baso, kaba12.com — Siswa SMA 1 Baso Irsyadul Halim meraih medali emas saat memperkuat tim FPTI Sumatera Barat pada kejuaraan wilayah panjat tebing se-Sumatera di Batang Hari, Jambi, 22-26 Oktober.
Irsyadul Halim, siswa kelas XI SMA 1 Baso ini menambah isi pundi emas tim panjat tebing Sumbar setelah menjadi juara pada kategori lead putra junior bersama rekannya Firdaus yang jmeraih medali perak pada kategori yang sama.
Prestasi ini menambah optimisme bagi FPTI Agam dalam menghadang Porprov XV Sumbar tahun 2018 di Padang Pariaman, pasalnya keduanya merupakan atlet yang dipersiapkan untuk porprov mendatang.
Menurut Aan PD pengurus FPTI Agam, yang juga pelatih Panjat Tebing Sumbar, prestasi yang diraih para atlet Agam itu sangat membanggakan, bahkan sukses mengharumkan nama Agam ditingkat wilayah Sumatera.
Aan PD optimis, kedua atlet bisa meraih prestasi terbaik kedepan, namun pihaknya tidak akan terlena dengan prestasi itu, dan akan fokus untuk mempersiapkan diri menghadang porprov mendatang.
Di ajang Porprov XV Sumbar, November mendatang FPTI Agam targetkan 5 emas,” kita berupaya maksimal dan optimis, target ini bisa tercapai,” ujar Aan PD.
HARMEN/*

“Apakabar Pemuda Kampungku”
(Sepenggal Kisah Para Atlit Panjat Tebing Kab.Agam)
————————
Dioktober yang sangat pemuda ini.
Hari minggu tanggal 21,
satu pekanlagi akan kita peringati hari bersejarah pemuda setanah air tercinta ini.
Ini sepenggal kisah yg biasa aku saksikan di kampungku.
Sungaiangek
Semoga bermanfaat.
Hari ini seharusnya adalah hari paling bersemangat bagi 6 pemuda yang 2 bulan sebelumnya sudah lolos seleksi Atlet Panjat Tebing Sumatera Barat untuk berlomba di kejuaraan wilayah Sumatera (Kejurwil) dibawah bendera ranah minang tentu saja. Bahkan informasi akan dilaksanakanya kejurwil ini sudah mereka dapatkan 6 bulan sebelumnya. Dan betapa momen lomba ini sangat mereka nantikan.
Kejuaraan itu akan berlangsung pada tanggal 22-28 Oktober Di Kab Batang hari provinsi jambi.
Idealnya mereka akan berangkat bersama2 Tim Sumbar setelah mengikuti seleksi dan pemusatan latihan Provinsi(Puslatda).
Iya, orang2 akan berfikir seperti itu. Segala fasilitas seperti reward setelah lolos seleksi, uang saku selama puslatda dengan pelatih yang berkelas dan sarana berlatih yang berstandar, pakaian kontingen lengkap dari ujung kepala hingga kaki. Ditambah tranportasi keberangkatan dan kepulangan dengan Garuda.
Tidak salah jika banyak yang berfikir dan mengira seperti itu, karna memang idealnya seperti itu.
Sayangnya tidak dengan tim kita ini. Bahkan kenyataanya malah jauh dan sangat jauh dari yang diharapkan. Tapi dengan begitulah cerita ini jadi menarik untuk disimak.
Bulan lalu 4 dari mereka lolos untuk mengikuti KEJURNAS di Riau. Sementara Yang berangkat hanya 3 dengan alasan tak ada cukio biaya untuk berangkat. Bahkan untuk 1 orangpun tak ada biayanya. Jangan tanya lagi soal fasilitas apa yang mereka dapat di KEJURNAS itu. Baju tanding yang wajib dipakai selama lomba itu mereka beli sendiri bersama semua tim dari kabupaten kota lain se Sumbar dan cuman satu baju itu yg dipakai berulang2 berhari2 selama lomba di Riau yg panas dan gerah, bahkan sangat panas mengingat kampung mereka di dataran tinggi.
Kembali ke sudut kampungku yang lembab pagi ini. Di depan masjid, Sudah bersiap2 enam pemuda dengan tas, jaket bermerek kabupaten Agam yang memudar sisa PORPROV 2 tahun yg lalu, perlengkapan lomba sekaligus perlengkapan latihan yg biasa dipakai satu untuk bersama dan baju ganti untuk satu minggu sudah tersusun rapi dalam tas itu. Bahkan mereka sudah siap berangkat dan berkemas semenjak sore kemarin. Saking semangatnya. Tak henti mereka saling tanya tentang jam berapa akan berangkat.
Jika lombanya hari senin, idealnya mereka berangkat sabtu sore jika keberangkatan jalan darat. Maka akan ada waktu istirahat satu hari satu malam sebelum berlomba.
Yang paling bersemangat diatara semua semangat muda itu adalah Iga Wihantara.
Iga yang pada kesempatan KEJURNAS bulan lalu di Riau nyaris memboyong Emas keranah minang. Tapi mungkin karna belum takdirnya menjadi juara Nasional Tahun ini, dia harus terima hasil akhir diperingkat 8. Padahal dia peringkat satu di babak kualifikasi.
Dia sepertinya masih penasaran dan ingin berjibaku lagi di kejurwil ini setidaknya untuk pembuktian pada diri sendiri. Itu dia buktikan dari latihan yang dilaluinya sepulang dari KEJURNAS. Seperti tak kenal lelah dan kejurwil ini begitu ia harapkan untuk menunjukan kemampuan terbaiknya.
Aku memanggil mereka untuk membicarakan hal penting tentang keberangkatan mereka dirumah gadang yg sehari2 mereka jadikan Markas. Hanya menisakan 30 menit sebelum berangkat ke terminal kota Bukittinggi.
Dengan ketegaran yg dipaksakan aku bercerita soal keadaan keuangan dan kurang adanya fasilitas yang diberikan mulai dari provinsi hingga ke kabupaten. Proprosal yang diajukan pengurus provinsi Federasi Panjat Tebing indonesia (FPTI) untuk keberangkatan tim tidak bisa di danai karna ketiadaan anggaran di Komite Olahraga (KONI) Provinsi. Pun sama ceritanya dengan proposal ke KONI Kabupaten bahkan sudah ditolak sebelum di ajukan. Dangan alasan yg sama saja.
Ruangan segi empat serba kayu itu tiba2 mencekam. Aku menarik nafas, berfikir memilih kata yang pantas. Mengatakan bahwa dana yang mereka miliki hasil patungan mereka dari uang saku latihan persiapan PORPROV yg baru cair tiga hari yg lalu itu dan cuman itulah biaya yg mereka miliki untuk berangkat pagi ini.
Uang 1,8jt Rupiah. Itu mereka kumpulkan dari sembilan orang bahkan mereka yg tidak lolos dan sudah pasti tidak akan berangkat kejurwil.
Nominal yang idealnya hanya. Memberangkatkan satu orang saja.
Melihat situasi dan kondisi yang semakin mencekam sebagai pelatih sekaligus kakak mereka, kembali aku menunjukan ke_sok-tegaran.
Sambil menjelaskan bus yg akan mengantarkan mereka kesana beserta ongkosnya hingga biaya yang mereka butuhkan selama seminggu disana. Sebuah negeri di provinsi tetangga yg belum pernah mereka kunjungi.
Memberi harapan dan semangat yang bergelora. Membuat mereka kembali bersemangat dan merasa punya harapan lagi.
“1,8 jt ko bisa untuk berangkek 3 urang, dengan syarat makan 1 ba 3 dan nginap di masjid terdekat”
Semua bersemangat namun ragu2 karna mereka ber 6 dan yg bisa brangkat cuman 3 orang saja. Siapa yang akan tertinggal? Mungkin itu pertanyaan di benak mereka namun tak tertanyakan.
” Berani brangkek dg modal sagiko?? ”
Pertanyaan dg nada menantang langsung menyulut semamgat muda mereka kembali terbakar.
“Lai, Da An”
jawab mereka serempak seperti terpekik. Dan semua tersenyum kepuasan. Entah puas karna apa.
Sang pelatih kemudian menoleh ke kiri, menatap lekat ke empat bola mata atlet yang sudah seperti keluarga kandung baginya. 2 anak muda yg begitu ia bangggakan. Tak terelakan, ruangan kembali mencekam. Dari tatapan pelatih yg mereka kenal, jelas tatapan itu berarti mereka yg akan di ‘korbankan’. Mereka yg akan tertinggal.
“Iga dan Irsyad, bulan lalu awak lah baliak KEJURNAS, kalau wak Agiah kesempatan kejurwil kini go untuk Razi, Aldi dan Firdaus. Baa kiro2 menurut Irsyad jo Iga?? ”
Ada Kesedihan, kekecewaan, iba hati yang tak terbendung tentu saja mengingat panjang persiapan sudah dilakukan sementara keputusan untuk tdak bisa berangkat jatuh beberapa menit sebelum keberangkatan, tergambar jelas dimuka mereka berdua.
Sementara,
Dari sudut mata sebelah kanan, terlihat Ada perasaan tidak enak dari Firdaus, Razi dan Aldi yg akan berangkat.
Keberangkatan yg harus mengorbankan sahabat satu tim mereka sendiri…
Aku kembali menatap Iga dan Irsyad bergantian.
” Baa juo lai, da An.”
Jawab Iga mengikhlaskan. Walau tak mudah.
” Kalau takdir wak barangkek, bisuak pas lomba tibo lo wak situ du, da An”
Irsyad angkat bicara penuh keyakinan
” Tapi kecek, da An. Bukan pitih nan mengantarkan wak kemanapun untuk mencapai cita2 wak… Dulu wak dak ado juo pitih do. Tapi sampai juo wak kemana2 berlomba, pelatihan bahkan sekedar pai liburan… ”
Irsyad menambahkan jawabanya. Mengulang dg kata2 yg sering ku dengungkan kepada mereka semua…
Allahuakbar…
Betapa aku bangga dengan anak muda ini…
Bangga pada mereka semua.
Jam 08 34 Firdaus, Razi dan Aldi berangkat. Iga, Irsyad dan kawan2 lainya bersiap utk ke lapangan latihan lagi seperti biasa di minggu pagi yg bersemangat…
Jadi.
Jika engkau bertanya tentang Apakabar Pemuda Kampungku??
Dengan bangga akan ku jawab…
Mereka masih Berjuang, Berlatih, Berkorban dan Bersabar(Istiqomah) untuk diri sendiri, orangtua, Kampuang, Bangsa dan Agama
Sungai angek, oktober 2018
~Semangat Sumpah Pemuda