Bukittinggi, KABA12.com — Setelah melaksanakan rapat dengar pendapat dengan organisasi terkait, pansus penyandang disabilitas DPRD kota Bukittinggi turun ke lapangan. Rombongan dipimpin langsung ketua pansus, didampingi sekretariat DPRD, meninjau langsung sekretariat beberapa organisasi penyandang disabilitas, Kamis (14/02).
Ketua pansus penyandang disabilitas DPRD Bukittinggi, Dedi Fatria, bersama anggota, M. Nur Idris, Nursyida dan Syaiful Efendi, menjelaskan, peninjauan langsung ke lapangan ini, merupakan tindak lanjut dari hasil rapat kerja pansus penyandang disabilitas bersama OPD dan organisasi terkait. Banyak masukan yang diberikan dan menjadi catatan bagi pansus dalam melakukan pembahasan dan merumuskan perda ini nantinya.
“Tujuanya memang untuk lebih mengenal organisasi dan kegiatan yang dilaksanakan oleh para penyandang disabilitas. Kita lihat kehidupan para penyandang disabilitas, bagaimana mereka belajwr dan berinteraksi satu dengan lainnya. Karena memang, masing-masing tuna itu, memiliki kebutuhan yang berbeda pula,” jelas Dedi.
Sementara itu, M. Nur Idris, anggota pansus penyandang disabilitas, mengaku haru dan terkesan dengan hasil peninjauan lapangan ini. Benyak poin yang didapat, salah satunya terkait upaya untuk lebih memperhatikan kehidupan dan kegiatan para penyandang disabilitas.
“Saat ini ada 16 poin yang sedang kita bahas dan kita rampungkan. Ini hasil dari rapat dengar pendapat sebelumnya dan sekarang kita turun ke lapangan untuk melihat langsung. Ternyata luar biasa, mereka dengan kekurangannya tetap bersemangat untuk beraktivitas. Ini yang harus kita perhatikan dan perjuangkan. Melalui ranperda ini, kita upayakan hal tersebut, sebagai payung hukun dan landasan bergerak untuk disabilitas,” pungkasnya.
Kunjungan ke lapangan ini, diawali dengan peninjauan ke YPPAC di daerah Gantiang.
Kemudian meninjau sekretariat Pertuni di Pakan Kurai, dimana di lokasi itu, anggota pansus melihat kegiatan belajar mengajar dari penyandang tuna netra. Terakhir dilakukan peninjauan ke Umbrella Deaf Project di Pintu Kabun, sebagai naungan Gerkatin, para penyandang tuna rungu, yang diajak secara bersama beraktivitas, berkreasi untuk membiasakan hidup lebih mandiri.
(Ophik)
