Maninjau, kaba12.com — Akibat amblasnya ruas jalan Kelok 10 di Jorong Pasa Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, tidak hanya berdampak pada akses transportasi roda empat keatas yang terputus, namun perekonomian masyarakat sekitar kawasan Kelok 44 yang mayoritas memiliki warung tepi jalan ikut terancam.
Pasalnya, ditutupnya akses jalan untuk kendaraan roda empat keatas membuat pendapatan masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai pemilik warung pinggir jalan menurun drastis.
Salah seorang pemilik warung di kawasan Kelok 44, Andro Fernando (35), merasakan dampaknya akibat ruas jalan propinsi yang menghubungkan Lubukbasung-Bukittinggi itu amblas, sehingga akses transportasi kendaraan roda empat keatas ditutup.
Dikatakan, sebagai salah seorang pemilik warung pinggir jalan, ekonominya hanya bergantung pada pengguna jalan yang singgah di warung-warung kawasan Kelok 44. Namun semenjak akses jalan ditutup untuk kendaraan roda dua keatas, dirinya merasakan dampak ekonomi yang menurun.

“Sebelum jalan amblas atau akses R4 keatas ditutup, Insyaallah pendapatan kami bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Biasanya hasil jual beli beli Rp 400 ribu per hari. Namun sejak ditutup untuk kendaraan R4, pendapatan kami menurun, bahkan kemarin jual beli kami hanya Rp 70 ribu per hari, itu pun hanya sepeda motor yang singgah,” ungkapnya kepada kaba12.com, Rabu (29/7).
Saat ini, ulasnya, pengendara roda dua sudah dibolehkan untuk melewati kawasan Kelok 44. Namun jika kendaraan roda dua tidak dapat melewati Kelok 44, maka ekonomi pemilik warung pinggir jalan akan semakin terancam. “Bahkan bisa dikatakan, akibat jalan ditutup ekonomi kami berdampak melebihi pandemi Covid-19,” ujarnya.
Disebutkan, untuk akses sayur-sayuran dari Agam Timur, saat ini sudah ada keringanan untuk kendaraan diperbolehkan untuk melewati Kelok 44, akan tetapi kendaraan dibataskan hingga Kelok 11. “Jadi akses sayur mayur di transit disini, namun ada juga yang memakai sepeda motor untuk mengantarkan ke pemasok,” katanya lagi.
Kendati demikian, dia berharap agar pemerintah secepatnya untuk mengatasi hal ini. Karena selain akses transportasi terganggu, ekonomi pemilik warung pinggir jalan juga terdampak.
“Kita berharap pemerintah bisa segera memproses langkah-langkah yang akan dilakukan, misalnya memasang jembatan darurat atau membuat kelok (tikungan) yang baru,” harapnya.
Sementara salah seorang sopir truk pengangkut ikan yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, bahwa akses transportasi ikan Danau Maninjau juga terdampak akibat jalan Kelok 44 ditutup untuk kendaraan R4 keatas. Pasalnya, kendaraan transportasi ikan harus memutar cukup jauh ke Pariaman, sehingga membuat waktu perjalanan bertambah.
“Akibatnya transportasi ikan juga telat sampai ditujuan, karena harus memutar jalan cukup jauh. Bahkan ikan pun banyak yang mati di perjalanan. Kita berharap agar pemerintah dapat menyelesaikan hal ini, agar akses transportasi dan perekonomian masyarakat dapat pulih kembali,” jelasnya.
(Bryan)