Gerakan Agam Menyemai, Refleksi dari Gagasan Indra Catri dan Tantangan Ketahanan Pangan di Era Inflasi

Oleh : H.Teddy Martha-Tokoh Masyarakat Agam

Hampir satu dekade lalu, Bupati Agam dua periode Indra Catri melahirkan program Gerakan Agam Menyemai (GAM). Sebuah gerakan yang saat itu dianggap sederhana, mendorong masyarakat menanam di halaman rumah, pekarangan, hingga lahan tidur dengan konsep swasembada berbasis keluarga dengan memfasilitasi penyediaan bibit dan mendorong keterlibatan pemerintah daerah sampai tingkat nagari secara massif dan terstruktur.

Kini, ketika inflasi pangan menekan masyarakat dan daya beli melemah, gagasan itu kembali relevan untuk ditinjau. Sebab, krisis pangan dan melonjaknya harga kebutuhan pokok bukan hanya persoalan nasional, tapi juga langsung dirasakan di tingkat rumah tangga.

Agam Menyemai adalah transformasi dari gerakan moral ke ekonomi rumah tangga. Karena Gerakan Agam Menyemai sejatinya bukan sekadar program bercocok tanam. Ia adalah gerakan moral, budaya, sekaligus strategi ekonomi rumah tangga. Masyarakat diajak untuk kembali ke tradisi lama, “barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang”, di mana ketahanan keluarga dimulai dari kemandirian pangan.

Dalam praktiknya, masyarakat didorong menanam cabai, sayur, hingga umbi-umbian dan tanaman produktif lainnya di pekarangan. Hasilnya bukan hanya mengurangi pengeluaran rumah tangga, tetapi juga membantu menekan inflasi di tingkat lokal. Seperti disaat harga cabai melonjak di pasar, keluarga yang sudah menanam sendiri bisa lebih tenang.

Pada kondisi ekonomi dan inflasi saat Ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pangan bergejolak (volatile food) menjadi penyumbang utama inflasi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Harga kebutuhan pokok seperti cabai, beras, dan bawang sering melonjak karena tergantung pada cuaca, distribusi, hingga pasokan antar daerah.

Dan saat ini di tengah melemahnya daya beli masyarakat, strategi ketahanan pangan berbasis lokal kembali menjadi urgensi. Agam, dengan karakter agrarisnya, memiliki potensi besar untuk mengembangkan kembali pola pikir Agam Menyemai sebagai salah satu solusi.

Ketahanan Pangan Daerah mesti bertransformasi dari konsep ke aksi.Kebijakan pangan tidak cukup hanya mengandalkan impor atau distribusi dari daerah lain. Ketahanan pangan yang sejati justru dimulai dari ketahanan pangan rumah tangga.

Jika setiap rumah mampu memproduksi sebagian kebutuhan pangan sendiri, tekanan inflasi bisa ditekan. Dalam konteks daerah, pemerintah bisa memperkuat dengan pola seperti Gerakan tanam massal berbasis keluarga dan nagari, Pemanfaatan lahan tidur untuk pangan produktif, Kolaborasi dengan sekolah dan pesantren melalui kebun pangan edukatif dan Digitalisasi dan marketplace lokal agar hasil panen pekarangan bisa bernilai ekonomi.

Kondisi saat ini bisa menjadi momentum untuk menghidupkan kembali Gerakan Agam Menyemai. Dimana kondisi saat ini seolah mengingatkan kita, bahwa gagasan Indra Catri melalui Gerakan Agam Menyemai tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah. Ia bisa menjadi model gerakan sosial-ekonomi yang relevan dengan kondisi sekarang.

Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi besar-besaran, tapi tentang kemandirian keluarga dalam menghadapi gejolak harga. Agam bisa kembali menjadi pelopor dengan semangat yang sama: menyemai harapan, menumbuhkan ketahanan, dan memetik kesejahteraan.- (*)

0Shares