Bukittinggi, KABA12.com — Dinas Lingkungan Hidup Kota Bukittinggi gelar lokakarya dalam upaya mencari solusi terbaik terhadap persoalan pengelolaan persampahan.
Kegiatan dengan tema Seleksi Teknologi Pengolahan Sampah Organik Menjadi Energi “Biowaste To Energy” yang difasilitasi oleh konsultan Ramboll dari Denmark ini, dibuka secara resmi Wakil Walikota Bukittinggi di aula Badan Keuangan Bukittinggi, Kamis (01/11).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bukittinggi, Supadria, mengatakan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari survey yang telah dilakukan oleh konsultan dibeberapa lokasi tentang kemungkinan dan alternatif solusi pengolahan sampah organik yang mungkin untuk dilaksanakan Bukittinggi.
“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari survey yang telah dilakukan oleh konsultan, dan pada kegiatan ini konsultan akan memaparkan hasil survey yang telah dilakukan tersebut dan tentu kita harapkan adanya respon dari kita yang hadir,” ujar Supadria.
Ia juga mengatakan, kegiatan ini merupakan kerjasama pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Pemerintah Denmark. Dimana di Indonesia hanya tiga daerah yakni Depok, Semarang dan Bukittinggi sendiri.
“Tentunya kita merespon kegiatan ini dan kita akan melihat solusi apa yang ditawarkan nantinya,” ungkapnya.
Sementara itu Wakil Walikota Bukittinggi Irwandi menyampaikan terima kasih kepada konsultan Ramboll Denmark, dimana kota Bukittinggi salah satu kota yang akan dicarikan solusinya terhadap persoalan pengelolaan sampah.
Kemudian Irwandi juga memaparkan kondisi Kota Bukittinggi sebagaimana permasalahan yang dialami perkotaan dengan masalah utama sanitasi yang terdiri atas 4 sub sektornya yakni drainase, limbah, air bersih dan sampah.
“Selama ini Bukittinggi telah berupaya melakukan pengomposan berbasis kelurahan dimana kita berupaya supaya sampah itu bernilai produksi ataupun bernilai ekonomis dan ini kita lakukan berbasis kelurahan residunya yang kita bawa ke TPS,” jelas Irwandi.
Wawako juga mengatakan, disamping sampah organik sampah yang paling mebahayakan itu adalah plastik.
Untuk menguranginya Pemko Bukittinggi telah melakukan kebijakan dengan membagikan 11 ribu keranjang belanja kepada dasawisma agar ibu rumah tangga tidak lagi menggunakan plastik kresek. Namun persoalan di kota ini karena Bukittinggi kota terbuka, maka hal ini juga memberikan kontribusi yang tinggi terhadap persolan sampah.
“Sebagai upaya yang telah dilakukan untuk pengolahan sampah diantaranya adalah pengomposan, daur ulang, pemberian keranjang belanjan guna ulang, pemberian tempat minum guna ulang (tumbler) kepada siswa dan penigkatan pelayanan dalam bentuk penjemputan langsung sampah ke kelurahan oleh petugas. Dari strategi tersebut telah diraih beberapa penghargaan dibidang kebersihan lingkungan yang diantaranya adalah pila Adipura, Kota Sehat, Nirwasita Tantra dan Smart Sanitaton Award,” ujarnya.
Kemudian Irwandi juga berharap, dengan lokakarya ini,” kiranya nanti ditawarkan beberapa solusi yang nantinya dinilai tepat dan responsive terhadap persolan persampahan khususnya sampah organik dikaitkan dengan keterbatasan areal atau lahan yang kita miliki untuk tempat pengolahan sampah ditambah lagi jarak tempuh TPA regional yang cukup jauh dari Bukittinggi,” tuturnya.
Peserta daripada lokakarya ini sebanyak 50 orang yang terdiri dari, SOPD terkait, camat, lurah, PLN, rumah sakit, rumah makan, bank sampah, kelompok tani dan dasawisma.
(Ophik)
