Lubukbasung, KABA12.com — Bersamaan dengan peringatan hari jadi perpindahan ibukota Kabupaten Agam ke-25 tahun di Lubukbasung, Kamis (19/07) besok, Pemkab Agam juga akan menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati Perang Kamang yang ke-110 tahun, di Kantor Camat Kamang Magek dilanjutkan dengan ziarah ke makam pahlawan Perang Kamang di Kamang Mudiak dan Magek.
Sekretaris Daerah Kabupaten Agam Martias Wanto mengatakan, peringatan Perang Kamang seharusnya dilakukan pada 19 Juni 2018 lalu, namun karena bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri upacara tersebut dilaksanakan, Kamis (19/07) besok.
Tidak hanya Perang Kamang, Pemkab Agam juga akan memperingati Perang Manggopoh di Lubukbasung bersamaan dengan peringatan perpindahan ibukota Kabupaten Agam ke-25 di halaman kantor Bupati Agam.
“Peringatan Perang Kamang dan Manggopoh setiap tahun diperingati. Tahun ini dilakukan 19 Juli, karena pada 15 Juni lalu bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Upacara peringatan Perang Kamang di Kamangmagek dan upacara peringatan Perang Manggopoh di di Lubukbasung ,” ujarnya.
Meski demikian, hal itu tidak akan mengurangi makna peringatan momen bersejarah itu.
“Kita menghargai jasa para pahlawan dengan tetap menjaga nilai kepahlawanan dan menjadikannya icon baik Tuanku Nan Renceh dan Mandeh Siti Manggopoh. Hal seperti ini yang kita transfer nilainya pada masyarakat,” ungkapnya.
Martias Wanto menambahkan, dalam peringatan Perang Kamang ini, pihak kecamatan setempat juga telah melakukan berbagai macam kegiatan, antara lain, pawai obor dan renungan suci yang dilaksanakan pada malam takbiran Idul Fitri 1439 Hijriah, napak tilas, dan gerak jalan.
“Puncak kegiatan, upacara bendera dan tabur bunga di makam pahlawan besok,” tambahnya.
Perang Kamang merupakan perjuangan rakyat Kamang, pada pemerintah kolonial Belanda yang menetapkan aturan pajak/belasting yang menyengsarakan rakyat.
Haji Abdul Manan, M. Shaleh Dt. Rajo Panghulu, Tuanku Nan Renceh dan lainnya bangkit untuk membela jati diri rakyat menentang pemerintah kolonial Belanda.
Perlawanan menentang kebijakan belasting Belanda bukan saja dilakukan oleh rakyat Kamang , tapi juga datang dari rakyat Lubukbasung yang dipimpin pejuang perempuan, Siti Manggopoh.
(Jaswit)
