Tradisi Rakik-Rakik Maninjau Diusulkan Masuk Kharisma Event Nusantara 2025

Lubukbasung, KABA12 — Pemerintah Kabupaten Agam melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) mengusulkan tradisi Rakik-rakik Maninjau untuk masuk dalam Kharisma Event Nusantara 2025.

Atraksi rakit hias ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat di sekitar Danau Maninjau sejak zaman penjajahan Belanda.

Kabid Ekonomi Kreatif Disparpora Agam, Adek Ariani menyebutkan bahwa tradisi ini sudah terdaftar dalam kalender acara tahunan Kabupaten Agam.

“Kami mengusulkan tradisi Rakik-rakik Maninjau untuk masuk Kharisma Event Nusantara 2025, sehingga penyelenggaraannya kedepan mendapat stimulus pembiayaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika tradisi ini mendapatkan stimulus, maka event tahunan itu bisa digelar lebih meriah. Selain itu, Disparpora sendiri juga telah melakukan presentasi proposal KEN di hadapan kurator provinsi, dan kini sedang menunggu hasil seleksi untuk tahap kurasi terakhir.

Lebih lanjut disebutkan, tradisi ini biasanya digelar meriah untuk menyambut bulan Syawal. Tradisi rakik-rakik melibatkan rakit yang dibuat dari bambu, dihias menyerupai bangunan tradisional Minangkabau dan masjid, serta dilengkapi dengan meriam bambu, lampu obor, dan LED.

Ia menceritakan bahwa tradisi ini berakar sejak masa penjajahan Belanda yang bertujuan untuk mengadu domba masyarakat lokal.

“Saat itu, setiap jorong dan nagari membuat rakit dengan badia batuang (meriam bambu). Pertandingan bunyi meriam bambu dari rakit-rakit tersebut membuat pemimpin Belanda terhibur ,” katanya.

Selain rakit, lanjutnya, kapal tongkang juga digunakan dalam tradisi ini, yang mencerminkan semangat gotong royong masyarakat dalam proses pembuatan rakit dan pelaksanaan acara.

Diketahui tahun ini, hanya dua nagari di Salingka Danau Maninjau yang menggelar tradisi rakik -rakik, yaitu Nagari Maninjau dan Tanjung Sani.

Jika proposal ini diterima Kharisma Event Nusantara, pihaknya berencana akan melibatkan seluruh nagari di sekitar danau pada tahun depan untuk berpartisipasi dalam iven tersebut.

Daerah Salingka Danau Maninjau banyak memiliki atraksi budaya dan kesenian tradisional, seperti pacu biduak, talempong uwaik-uwaik, tambua tansa, dan permainan tradisional lainnya.

“Kami setiap tahun menggelar berbagai iven untuk mengenalkan potensi, melestarikan budaya, serta kearifan lokal melalui festival seni budaya Salingka Danau Maninjau,” sebutnya.

(Bryan)

0Shares