Tiga Pakar Bahas Antisipasi Dampak Penurunan Kualitas Udara

Koto Tabang, kaba12.com — Mengantisipasi dampak penurunan kualitas udara akibat musim kemarau 2020, di Sumatera Barat dibahas khusus dalam seminar melalui aplikasi zoom meeting itu diikuti hampir 240 orang termasuk Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Drs. Herizal, M.Si, bersama tiga pakar pengamat udara yang digelar stasiun pemantau atmosfer global (GAW) Bukit Kototabang, Kecamatan Palupuh, bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Sumbar, Selasa,(25/8).

Seminar penurunan kualitas udara dengan moderator, Siswanto, M.Sc., PhD (cand) Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, dengan MC Sheila Dewi Ayu Kusumaningtyas, M.Si yang juga peneliti di BMKG.

Kepala Stasiun Pemantau GAW Bukit Kototabang Wandayantolis, M.Si, dalam paparannya berjudul potensi penurunan kualitas udara di Sumatera Barat tahun 2020, menyebut di Sumbar bukan produsen hotspot, tetapi penerima dampak, dari kabut asap dari daerah lain.

Ditambahkan, GAW perlu bekerjasama dengan lingkungan hidup kabupaten- kota untuk berkolaborasi agar penurunan kualitas udara terpantau dan diinformasikan kepada masyarakat,langkah yang harus dilakukan untuk mengantisipasi dampak buruknya.

Dikatakan Wandayantolis, adanya perkiraan pemantauan kualitas udara untuk dua – tiga hari kedepan didasari adanya kerjasama terutama memakai PM10, yang dipantau melalui parameter meteorologi arah angin dan curah hujan.

Melalui Rent (R) dapat dibantu dan penyebarannya secara linear dapat dipantau kualitas udara dan diinformasikan dalam pengambilan kebijakan lebih lanjut,”apakah menutup sekolah, memakai masker, atau langkah lain, “ sebutnya.

Wandayantolis menambahkan GAW Koto Tabang dan BMKG juga menginformasikan curah hujan, arah angin dan tingginya gelombang laut yang berguna bagi para nelayan.

HARMEN

0Shares