Bukittinggi, KABA12.com — Berbagai upaya Aisyiyah Bukittinggi untuk mencegah dan menanggulangi TB dan HIV di Bukittinggi, memang terus dilakukan. Salah satunya dengan kembali menggelar pelatihan Community TB HIV Care ‘Aisyiah Sub Sub Recipient (SSR) Bukittinggi selama dua hari, Jumat hingga Sabtu, 21 – 22 September 2018.
Anggraini Mutia Sari, S.Kesos , Koordinator SSR TB -HIV Care ‘ Aisyiyah Bukittinggi, menjelaskan, sebelumnya telah dilaksanakan pelatihan CSO 1-2, dengan tema kemampuan advokasi pendanaan dan kampanye media. Untuk pelatihan CSO 3-4 kali ini dengan tema management program dan management volunteer.
Untuk pelatihan CSO 3-4 ini, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang konsep management program dan penggalangan sumberdaya (fudsrising). Peningkatan keterampilan peserta (CSO) mengenal teknik perencanaan program, teknik analisa kebutuhan program, penyusunan strategi pelaksanaan program serta evaluasi program berkenaan dengan isu kesehatan program TB-HIV.
“Sasaran lainnya, meningkatkan keterampilan peserta CSO dalam upaya penggalangan potensi dan sumberdaya melalui proses fundrising sebagai upaya keberlanjutan program penanggulangan TB berkesinambungan,” jelasnya.
Misdar, perwakilan Dinas Kesehatan Bukittinggi, yang menjadi salah satu narasumber kegiatan ini menjelaskan, TB dan HIV sangat berkaitan erat. Masyarakat yang menderita HIV sangat rentan terjangkit TB. Tubercolosis merupakan penyakit menular langsung disebabkan oelh kuman TB. Saat ini sekitar 1/3 penduduk dunia telah terinfeksi TB.
“HIV merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Penderita HIV sangat mudah menularkan infeksinya kepada orang lain, melalui kontak seksual, kontak darah dan penulara ibu ke anak. Infeksi menular seksual (IMS) mempermudah penularan HIV yang selanjutnya berkembang menjadi AIDS,” jelas Misdar.
Saat ini kementrian kesehatan tengah berupaya untuk memutus penularan TB dan HIV, salah satunya dari ibu hamil ke anak. Penjaringan saat ibu hamil, dapat mengantisipasi penularan HIV dari ibu ke anak.
HIV merupakan faktor resiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Oleh karena itu, jika ditemui pasien TB dengan gejala IMS harus segera dirujuk ke pelayanan IMS.
“Tugas kita bersama dan juga SSR ‘Aisyiyah untuk mensosialisasiakan serta mengajak warga yang terindikasi TB dan HIV, agar segera memeriksakan kesehatan mereka, karena penderita TB dan HIV harus konsumsi obat rutin dalam waktu yang cukup lama,” ungkapnya.
Sementara itu, Ade Mulyani, Kabid Pembangunan Manusia dan Masyarakat Bapelitbang Bukittinggi, dalam materinya, mengangkat tema memperkuat peran serta masyarakat dalam penanggulangan TB-HIV.
Ia mengakui program SSR Aisyiyah dalam menanggulangi TB dan HIV, sangat membantu program pemerintah.
“TB-HIV care Aisyiyah memiliki peran sebagai inisiator dan fasilitator dalam program penanggulangan TB-HIV nasional. Bappeda/Bepelitbang siap berperan untuk bantu Aisyiyah dalam mengakomodir kegiatan, perencanaan, penganggaran dan evaluasi program dan kegiatan terkait upaya penanggulangan, pencegahan dan penyalit menular TB-HIV,” ungkapnya.
Kegiatan ini diikuti 15 perwakilan dari berbagai bidang dan juga komunitas serta beberapa perwakilan pasien yang menjadi mitra SSR Aisyiyah.
Dalam dua hari pelaksanaannya, juga diisi materi oleh Deri Rizal, Koordinator SR Aisyiyah Sumbar, terkait fundraising atau menggalang sumber daya untuk menanggulangi dan menangani TB dan HIV.
(Ophik)
