Kaba Terkini

RS.Kewalahan Tampung Pasien Covid-19, Agam Siapkan Rumah Isolasi Berbasis Nagari

Lubukbasung, kaba12.com — Menyikapi kondisi yang semakin mencemaskan menyusul semakin melonjaknya jumlah warga yang terpapar covid-19 di kabupaten Agam, Bupati Indra Catri buat terobosan baru dengan mempersiapkan rumah isolasi berbasis nagari.

Beberapa nagari saat ini tengah dipersiapkan sebagai pilot project untuk penanganan pasien isolasi, terutama untuk menampung sementara pasien OTG yang harus menjalani isolasi, yang diawasi khusus oleh petugas kesehatan bersama tim siaga covid-19 nagari.

Rumah isolasi berbasis nagari atau kaum dicetuskan Bupati Agam Dr.H.Indra Catri itu, adalah alternatif dalam mengantisipasi lonjakan pasien positif covid-19, menyusul semakin penuhnya berbagai rumah sakit di Sumatera Barat, dalam menampung pasien positif Covid-19.

Selain sebagai lokasi alternative dalam menampung pasien positif covid-19, rumah isolasi berbasis nagari itu, secara tidak langsung mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat nagari dan kaum dalam menghadapi pandemi Covid-19 secara kolektif di berbagai nagari di kabupaten Agam.

Untuk tahap awal, Bupati Agam Dr.H.Indra Catri didampingi Kepala DPMN Agam Teddy Martha bersama beberapa pejabat terkait di Pemkab.Agam, Rabu,(9/9), meninjau persiapan operasional rumah isolasi berbasis nagari di Nagari Ampang Gadang dan Nagari Pasia, kecamatan IV Angkek

Hal itu merupakan benang merah yang disampaikan Bupati Agam, Dr. Indra Catri saat mengecek kesiapan rumah isolasi berbasis nagari di Nagari Ampang Gadang, kecamatan IV Angkek dan Nagari Pasia Laweh, kecamatan Palupuah, Rabu (9/9).

Menurut Indra Catri, dalam satu bulan terakhir kasus positif Covid-19 di Agam mencapai 251 kasus, 20 persen dari kasus positif Covid-19 di Sumbar. Dengan lonjakan tersebut, diperlukan alternatif lokasi perawatan dan isolasi mengingat keterbatasan kapasitas rumah sakit dalam menampung pasien positif Covid-19.

Dijelaskan, rumah isolasi nantinya akan menampung pasien positif Covid-19 asimptomatik atau Orang Tanpa Gejala (OTG), untuk mengetahui kasus asimptomatik tersebut dapat dilakukan dengan memaksimalkan tracking, tracing dan treatment (3T).

“Dengan memaksimalkan 3T, seperti memperdalam pelacakan, maka kita akan mengetahui mana pasien yang bergajala dan mana yang tidak. Nah, yang tidak bergejala maka akan dikarantina secara mandiri di rumah isolasi, sehingga bisa mengurangi kapasitas karantina di rumah sakit,” jelas Dr. Indra Catri.

Disebutkan, seandainya 82 nagari di kabupaten Agam mempunyai rumah isolasi yang bisa menampung 4 pasien positif Covid-19, maka persoalan keterbatasan tempat isolasi di rumah sakit bisa teratasi dengan sendirinya.

“Saya berharap setiap nagari mempunyai rumah isolasi, tagak nagari manjago nagari, tagak kampuang manjago kampuang, anak dipangku kamanakan dibimbiang, selamatkan kemanakan kita maka kita akan menyelamatkan urang kampuang,” tegasnya berharap.

Disisi lain, Dr. Indra Catri menyebutkan, keberadaan rumah isolasi berbasis nagari diharapkan dapat merubah stigma masyarakat tentang ancaman Covid-19, sehingga masyarakat bisa menjadi agen edukasi protokol kesehatan Covid-19.

“Kita berharap, dengan adanya rumah isolasi di setiap nagari akan lahir kesadaran bersama bahwa pandemi Covid-19 sangat mengkhawatirkan, bahkan di kabupaten Agam sudah 5 pasien Covid-19 yang meninggal dunia, ini harus menjadi perhatian serius kita semua, “ harapnya.

HARMEN

0Shares
To Top