Pelaku UMKM Menjerit, Rinuak Danau Maninjau Langka Sejak November 2022

Maninjau, KABA12 — Sejumlah pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Agam mengeluhkan kelangkaan ikan Rinuak di Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya. Kondisi itu diketahui sudah terjadi sejak bulan November 2022 pasca peristiwa ‘tubo belerang ‘ yang mengakibatkan ribuan ikan mati massal.

Seperti diungkapkan salah seorang pelaku UMKM di Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Zulnaldi Tanjung menyebutkan, kelangkaan ikan Rinuak khas Danau Maninjau itu menyebabkan para pelaku UMKM menjerit lantaran kesulitan mendapatkan bahan baku, sehingga membuat produksi olahan ikan endemik tersebut terhenti.

“Sejak awal Desember 2022 sampai sekarang kami tidak memproduksi olahan ikan rinuak karena kesulitan mendapatkan bahan baku utama,” ujarnya kepada KABA12, Senin (13/3).

Ia mengatakan, kelangkaan ikan Rinuak di pasar tradisional sudah terjadi semenjak November lalu pasca kematian ikan di Danau Maninjau secara massal akibat buruknya kualitas air danau.

“Ikan Rinuak tidak muncul karena kondisi air danau yang buruk dan tercemar sehingga mengakibatkan populasinya berkurang,” ungkapnya.

Biasanya dirinya menjual olahan ikan endemik tersebut berupa peyek rinuak dengan harga Rp 16 ribu per bungkus. Namun sejak kelangkaan ikan rinuak selama 4 bulan terakhir, ia mengganti toping peyek itu dengan kacang tanah maupun udang ‘bariang’ (udang rebon -red) guna menjawab permintaan konsumen.

Zulnaldi Tanjung, Pelaku UMKM Kecamatan Tanjung Raya mengeluhkan kelangkaan ikan rinuak di Danau Maninjau. (Foto: Bryan/KABA12)

“Saat ini kami hanya menawarkan peyek kacang dan peyek udang ‘bariang’ dengan harga Rp 13 ribu per bungkus kepada para konsumen meskipun masih banyak yang menanyakan stok peyek rinuak,” katanya.

Ia berharap, kondisi air Danau Maninjau dapat kembali semakin membaik agar populasi ikan rinuak beserta ikan lainnya bisa bertambah. Sehingga para pelaku UMKM dapat memproduksi berbagai macam olahan ikan Rinuak.

“Mudah-mudahan ikan rinuak bisa segera muncul seiring dengan kondisi air danau yang semakin membaik. Apalagi rinuak ini adalah ikan endemik, dan hasil olahannya merupakan kuliner khas yang wajib dicoba bagi wisatawan ketika berkunjung ke Danau Maninjau,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembudidayaan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Agam, Doni Afdison membenarkan kelangkaan ikan rinuak yang sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

Ia menyebut, kelangkaan rinuak dimulai sejak kematian ikan massal pada akhir tahun lalu.

“Saat peristiwa tubo belerang di Danau Maninjau membuat ikan-ikan mati massal, termasuk rinuak juga terkena dampaknya karena sangat sensitif,” ujarnya.

(Bryan)

0Shares