Bukittinggi, KABA12.com — Bidang pariwisata Bukittinggi mengalami kerugian hingga mencapai Rp 3,5 milyar. Hal itu disebabkan dampak merebaknya Corona Virus Disease (Covid-19). Kerugian tersebut terhitung semenjak kunjungan wisata dari dalam negeri dan mancanegara ke Bukittinggi ditutup pada akhir Maret lalu.
Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Ekonomi dan Kreatif Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Bukittinggi, Suzy Yanti, mengatakan, untuk di objek wisata berbayar saja kerugian mencapai Rp 1 milyar lebih.
“Sejak diumumkan penutupan pada Maret lalu, kunjungan turun drastis hingga 100 persen,” jelasnya.
Hal itu, lanjut Suzy, juga berimbas terhadap tingkat hunian hotel. Dimana, sejumlah hotel dibawah naungan PHRI Bukittinggi banyak yang kosong bahkan pekerja banyak yang dirumahkan.
“Semua hotel di Bukittinggi banyak yang kosong, paling cuma ada satu kamar yang terisi,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bukittinggi Vina Kumala mengatakan, jika dampak merebaknya virus Covid 19 ini memiliki dampak besar bagi hotel dan restoran yang ada di Bukittinggi. Beberapa hotel besar dan kecil serta restoran tutup. Bahkan, beberapa karyawan terpaksa dirumahkan. Bagi beberapa hotel yang masih buka, terkadang harus menggilir jadwal karyawan untuk bergantian bekerja. Hal itu dilakukan karena ketidaksanggupan pihak manajemen hotel untuk membiayai upah karyawan.
“Sejak sepekan setelah diumumkannya adanya pasien positif, terus dengan adanya pengumuman penutupan objek wisata otomatis pengunjung tidak ada apalagi tamu hotel. Yah memang, kita semua dari PHRI tentu berharapnya kepada pengunjung, karena selama ini pengunjunglah yang mengisi hunian hotel,” sebutnya.
Vina mengatakan, sejak sepekan terakhir kondisi hunian hotel bahkan bisa dikatakan tidak ada. Hal itu berimbas besar pada omset hotel dan restoran. Bahkan beberapa hotel berskala besar hingga kecil tutup karena tidak ada pengunjung.
“Dengan kondisi ini kita juga berharap adanya uluran tangan dari Pemerintah Kota. Kita sebagai penyumbang PAD selama ini, wajar jika seandainya dalam kondisi seperti ini mendapat perhatian juga dari pihak pemerintah. Karena kondisi saat ini, benar-benar jauh diambang batas. Bahkan karyawan ada yang dirumahkan karena tidak sanggup lagi untuk membayar gajinya,” sebut Vina.
(Ophik)
