Lubukbasung, KABA12 — Jambore Geopark Sianok- Maninjau yang digelar selama tiga hari 25-27 Juli 2024 di geosite Lawang Park, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam sukses digelar dengan tema pariwisata berbasis edukasi, konservasi, dan pengalaman melalui forest healing.
Kegiatan itu diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat dengan konsep pariwisata berkelanjutan dan berkolaborasi dengan sejumlah OPD seperti Disparpora Agam, Dispar Bukittinggi, serta Dinas Kehutanan Sumatera Barat. Jambore ini terlaksana atas dana pokok pikiran Anggota DPRD Sumbar H Ismet Amzis.
Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Sianok-Maninjau, Ahmad Fadhly MT mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud nyata dari konsep pariwisata berkelanjutan yang melibatkan kolaborasi erat antara berbagai instansi.
“Jambore ini tidak hanya menjadi ajang promosi tetapi juga platform untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya edukasi dan konservasi di Geopark Sianok-Maninjau,” ujarnya, Senin (29/7).
Selama tiga hari, acara itu menawarkan berbagai kegiatan, termasuk tracking di jalur geowisata, menikmati lanskap Danau Maninjau, dan mengeksplorasi geosite Pincuran Gadang, Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matur.
Para peserta yang merupakan Pokdarwis di Agam dan Bukittinggi juga diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan edukatif seperti workshop tentang geologi dan konservasi alam. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan serta memahami potensi alam yang dimiliki kawasan Ngarai Sianok Maninjau.
“Jambore Geopark Ngarai Sianok Maninjau diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan konsep pariwisata berkelanjutan yang berbasis edukasi, konservasi, dan pengalaman. Dengan demikian, Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga edukasi dan konservasi lingkungan,” kata ahli geologi lulusan Universitas Padjadjaran itu.
Pihaknya bersama General Manager Geopark Sianok-Maninjau Zuhrizul juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam pelaksanaan acara.
“Alhamdulillah, kerja keras dan dedikasi kami menjadikan jambore kemarin berlangsung sukses dan memberikan pengalaman tak terlupakan bagi para peserta,” ungkapnya.
Fadhly menambahkan, dengan terselenggaranya acara itu diharapkan kawasan Geopark Ngarai Sianok-Maninjau semakin dikenal di dunia internasional dan berhasil mendapatkan pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark. “
“Kita berharap Geopark Sianok-Maninjau berhasil mendapat pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark sehingga nantinya bisa menjadi kebanggaan bagi Sumatera Barat dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Sekdako Bukittinggi, Dr (HC) Drs Martias Wanto yang juga penanggung jawab Geopark Potensial Sumatera Barat saat diskusi jambore kemarin mengungkapkan optimisme bahwa Geopark Ngarai Sianok-Maninjau berpotensi menjadi UNESCO Global Geopark dan aset dunia yang mewakili Sumatera Barat.
“Kami berharap Jambore ini menjadi langkah awal untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan dan mendorong kapasitas SDM dalam sektor ini,” katanya.
Menurutnya, Jambore Geopark tahun ini akan menjadi cikal bakal Jambore Geopark Ranah Minang tingkat nasional dengan mengundang peserta Geopark se- Indonesia yang akan digelar tahun 2025 dengan tuan rumah Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi.
“Sebagai informasi, tahun 2023 lalu Kota Sawahlunto telah menjadi tuan rumah Jambore Geopark tingkat nasional. Sedangkan untuk tahun 2025, Agam dan Bukittinggi yang akan menjadi tuan rumah kegiatan,” jelasnya.
Pihaknya juga berharap pelaksanaan jambore ini menjadi ajang promosi untuk memacu jumlah kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat terutama pada wisata minat khusus.
(Bryan)
