Bukittinggi, KABA12.com — Special Olympics Indonesia (SOIna) Bukittinggi turunkan empat atlet pada PeSODA tingkat Provinsi Sumatera Barat yang dilaksanakan di Kota Padang 8-10 Maret 2022. Alhasil dari 3 hari pelaksanaan keempat atlet Bukittinggi itu, raih medali emas di masing masing cabang olahraga (cabor) yang diikuti.
Kadisparpora Bukittinggi, melalui Kabid Pemuda Olahraga, Frince Maradoni, mengapresiasi upaya maksimal yang diberikan atlet SOIna Bukittinggi. Dengan keterbatasan yang ada, namun tetap bisa berbuat, berkreatifitas bahkan mengharumkan nama Bukittinggi.
“Ini tentunya sangat membanggakan bagi masyarakat dan Pemerintah Kota Bukittinggi. Kami sangat mengpresiasi dan akan terus mendukung kegiatan kegiatan dari SOIna Bukittinggi dalam mengembangkan bibit atlet yang berpotensi,” ujarnya.
Ketua SOIna Bukittinggi, Dedi Fatria, didampingi Sekretaris SOIna, Nur Azizah, menyampaikan, empat atlet yang diturunukan dan mendapat medali emas itu, Dayat untuk cabang bulu tangkis putra, Isra aini cabang bulu tangkis putri, Wulan cabang lempar bola dan Neldi cabang lari 400 M. Keempat atlit tersebut akan lanjut mewakili Sumbar pada Pekan Olahraga Nasional (PORNAS) SOIna di Semarang.
“Terimakasih doa masyarakat Bukittinggi. Semua kontingen SOIna Bukittinggi meraih medali emas. Kami juga ucapkan terimakasih kepada pendamping, pelatih, semua pengurus SOIna Bukittinggi, Bidang Pemuda dan Olahraga Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Bukittinggi,” ujarnya.
Special Olympics Indonesia atau SOIna, merupakan satu- satunya organisasi di Indonesia yang mendapat akreditasi dari Special Olympics International (SOI) untuk menyelenggarakan pelatihan dan kompetisi olahraga bagi warga Tunagrahita di Indonesia.
Dedi Fatria menjelaskan, Tuna grahita atau keterbelakangan mental, merupakan kondisi seseorang yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata orang normal. Hal ini terjadi karena beberapa hal, salah satunya cedera otak atau otak tidak berfungsi normal.
“Tuna grahita menyebabkan seseorang memiliki keterbatasan yang signifikan pada fungsi intelektual dan perilaku adaptif seseorang. Sebutan tuna grahita ini juga dikenal dengan nama ‘disabilitas kognitif’.,”ujarnya.
(Ophik)
