Bukittinggi, KABA12 — Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan bekerja sama dengan Rumah Sakit Tingkat II Dustira gelar Media Workshop 2026 bertemakan “Kupas Tuntas Layanan Jantung dalam Program JKN”, Bandung, Rabu, 16 September 2026.
Kegiatan ini membahas akses, mutu, pembiayaan, serta pengembangan layanan jantung bagi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Dr. dr. Prihati Pujowaskito, Sp.JP(K), FIHA, M.M.R.S., menyoroti tantangan pembiayaan kesehatan, khususnya pada penyakit katastropik seperti jantung yang menelan biaya hingga belasan triliun rupiah. BPJS Kesehatan mendorong transformasi pelayanan kesehatan dari yang semula berorientasi pada volume (volume-based) menjadi berorientasi pada nilai mutu pelayanan (value-based).
Dalam penyelenggaraannya, BPJS Kesehatan saat ini memiliki peserta hampir 285 juta jiwa dan bekerja sama dengan sekitar 23.000 fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP)/klinik dan 3.200 rumah sakit. Ia menekankan dalam menjalin kerja sama, BPJS kesehatan selalu mengedepankan menjaga mutu, membuka akses, dan proteksi finansial.
“BPJS ini dalam menjalin kerja sama selalu mengedepankan tiga hal, yaitu membuka akses, menjaga mutu, dan proteksi finansial,” ujarnya.
Ia menambahkan, BPJS Kesehatan akan selalu memastikan prosedur pelayanan kesehatan menghasilkan dampak kesehatan yang terukur dan berkualitas yang dibutuhkan oleh pasien dengan tepat sasaran.
Menurutnya, pelayanan kesehatan tidak cukup hanya berorientasi pada banyaknya tindakan, tetapi harus memberikan dampak kesehatan yang terukur dan sesuai kebutuhan pasien.
Kepala Rumah Sakit Tingkat II Dustira, Letkol Ckm dr. Muhlas Fahmi, Sp.OG, mengatakan, pihak rumah sakit Dustira akan mendukung penuh program JKN dan terus meningkatkan mutu juga keselamatan pasien, khususnya layanan jantung, melalui pengembangan kemampuan serta pemenuhan peralatan penunjang seperti Intravascular Ultrasound (IVUS) dan C-Arm. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, RS Dustira telah melayani 975 pasien Catheterization Laboratory peserta JKN dengan pembiayaan ditanggung BPJS Kesehatan.
“Rumah Sakit Dustira terus melakukan perbaikan dan inovasi agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang cepat, tepat, aman, bermutu dan berorientasi pada pasien,” ujarnya.
Sementara itu, Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi melalui Pamen Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Lingkungan Hidup, Kolonel Alhanud Tri Ardijanto Santoso, mengapresiasi pelaksanaan workshop ini untuk membangun pemahaman bersama mengenai program JKN, khususnya akses dan peningkatan kualitas layanan kesehatan jantung. Ia juga menekankan pentingnya edukasi pola hidup sehat, pemeriksaan berkala, pengenalan faktor risiko, serta pertolongan medis sedini mungkin.
“Pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas dan teknologi, tetapi juga oleh kemudahan akses, kecepatan pelayanan, kompetensi tenaga kesehatan, serta kesinambungan pengobatan,” katanya.
(Ophik)
