Lasi, KABA12.com — Tim Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V (lima) survey sungai Batang Galodo Jorong Lasi Mudo Kecamatan Canduang, kabupaten Agam, Rabu, (31/1).
Survei ini terkait keberadaan Batang Galodo yang termasuk salah satu kawasan zona merah dari empat zona merah di kabupaten Agam.
Tim surveyor Abdul Majid dan Maju Aritonang dari BWS Sumatera V didampingi Fauzi. S, STP., MA, Camat Canduang, M. Zen Dt. Badindiang Basa Ketua KAN Lasi, Edi Muhardi, Koordinator KSB marapi, Agusni Pondri dan Musfan anggota tim reaksi cepat KSB Marapi, Tibrani, SH. staf Camat Canduang yang juga Sekretaris KAN Lasi, M. Syawal Wali Jorong Lasi Mudo, Ridwan Khadafi ,Ketua Kesatuan Pemuda Lasi serta M. Hasan dan Zul pemuda Lasi menyisir dari hulu Batang Galodo di bawah air terjun Batang Pinang sampai ke batas Nagari Lasi dengan Jorong Sitapuang Nagari Balaigurah.
Disamping melakukan penyisiran langsung oleh tim survey dari BWS Sumatera V bersama komponen masyarakat dan Camat Canduang tersebut juga mempergunakan drone sehingga pemetaan jalur sungai dapat dipantau dan dideteksi langsung, termasuk titik-titik rawan Batang Galodo tersebut.
Kegitan survey untuk rencana pengerukan, pelebaran dan pengedaman dinding Batang Galodo tersebut mengundang perhatin masyarakat yang bermukim di sepanjang DAS Batang Galodo, termasuk warga Pasar Lasi.
M. Zein Dt. Badindiang Basa dan M. Syawal mengapresiasi respon cepat pemerintah pusat dari Kementerian PUPR atas harapan warga untuk pengerukan dan pelebaran ruas Batang Galodo menjadi 6 x 6 meter yang diajukan KSB Marapi .
Survei awal untuk akurasi data oleh Kementrian PUPR melalui BSW Sumatera V sebagai dasar pengambilan kebijakan kegiatan normalisasi Batang Galodo yang membuat resah warga apalagi saat musim hujan saat ini.
Menurut Edi Muhardi Koordinator KSB Marapi, menjelaskan sejak galodo 1979 hingga tiga kali galodo setelahnya dan kondisi kecuraman tebing Gunung Marapi hulu Batang Galodo itu berada pada kemiringan 45˚-50˚, sementara Gunung Marapi adalah gunung berapi aktif sehingga tingkat pelapukan batuan dan material gunung cukup tinggi dan gempa pun sering terjadi baik gempa tektonik maupun vulkanik turut memicu terjadinya keretakan pada matrial gunung sehingga saat musim hujan berpotensi memicu galodo.
” Kondisi ini menghantui masyarakat Jorong Lasi Mudo di sepanjang DAS Batang Galodo itu.Ini yang mendasari permohonan kami kepada Kementrian PUPR revitalisasi Batang Galodo, kami berharap hal itu bisa segera ditindaklanjuti, untuk mengantisipasi dampak bencana yang lebih buruk, ” ujarnya.
Sementara camat Canduang Fauzi. S, STP., MA., berterimakasih kepada semua inisiator sehingga respon pemerintah pusat bisa langsung ke lapangan.
“Melihat kondisi Batang Galodo yang sempit dan dangkal tersebut sangat perlu pengerukan, pelebaran dan pengedaman tebing Batang Galodo itu sesegera mungkin sesuai permohonan KSB Marapi tersebut,” ulasnya.
Ditambahkan, upaya ini dapat meminimalisir dampak jika bencana terjadi, termasuk memberi rasa nyaman warga termasuk areal pertanian warga seluas sekitar 75 ha di kanan dan kiri Batang galodo juga dapat diliri kembali.
” Kami berharap kegiatan itu bisa langsung berjalan dan kami berterimakasih pada para inisoator termasuk rekan Doni Magek yang menjembatani hal itu, sehingga survei bisa dilakukan bersama, ” ulas Fauzi lagi.
Normalisasi sungai Batang Galodo di wilayah kecamatan Canduang itu sudah sejak lama diharapkan masyarakat terutama untuk mengantisipasi dampak potensi bencana sekaligus bisa menghidupkan kembali potensi pertanian di sepanjang aliran yang berhulu di gunung marapi itu.
HARMEN/*
