32 Tahun Ibukota Agam di Lubukbasung, Warga Harapkan Dibangun Monumen Khusus

Lubukbasung,kaba12 — Moment peringatan 32 tahun Ibukota Kabupaten Agam dari Bukittinggi ke Lubukbasung yang diperingati dengan upacara bendera khusus di halaman kantor Bupati Agam, Padang Baru, Lubukbasung, Senin, (21/7) menjadi catatan tersendiri bagi banyak kalangan.

Selain sukses menghantarkan acara yang luar biasa, terutama sukses mendorong partisipasi masyarakat, tidak hanya ribuan warga yang terlibat aktif dalam kegiatan yang digelar, tapi juga ratusan jamba semarakkan nuansa kebersamaan sebagai menu utama makan bersama di Balairung Kediaman Resmi Bupati Agam.

Bahkan, yang special, moment upacara peringatan 32 tahun kepindahan ibukota Kabupaten Agam yang dihadiri 2 mantan Bupati Agam dan dua mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Agam itu,diawali dengan pembacaan nukilan sejarah oleh tokoh ninik mamak Lubukbasung Nasrial Dt.Asa Labiah, yang juga salah satu kemenakan pelaku sejarah yang ikut menandatangani surat pernyataan dukungan bersama 18 tokoh masyarakat Kecamatan Lubukbasung lainnya yakni Mawardi Luthan Dt.Asa Labiah ( alm ).

Dalam nukilan sejarah ringkas sebanyak 4 halaman itu, disebutkan rangkaian proses sejarah dan dokumen resmi terkait dengan tahapan sampai pada titik akhir terealisasinya kepindahan ibukota Kabupaten Agam dari Bukittinggi ke Lubukbasung.

“Kami menghaturkan doa dan ungkapan terimakasih yang tak terhingga atas jasa dan pengorbanan yang dilakukan 18 pelaku sejarah, termasuk dua pimpinan daerah yang terlibat langsung dalam proses pemindahan ibukota Kabupaten Agam ke Lubukbasung yakni Kol.Inf.M.Nur Syafei (alm) dan Brigjen.TNI.(purn) H.Gustiar Agus, bersama para pejabat daerah dan tokoh masyarakat yang aktif pada masa itu untuk merealisasikan harapan kemajuan yang dinikmati masyarakat saat ini, “ulasnya.

Disebutkan, pengorbanan, jasa dan pengabdian yang dilakukan sehingga impian masyarakat Kabupaten Agam bisa memiliki pusat pemerintahan dan ibukota daerah yang representatif dan maju, mesti dicatatkan dalam sejarah dengan tinta emas untuk selalu dikenang dan dihormati oleh anak-cucu kelak.

Harapan serupa untuk mengabadikan perjuangan dan pengorbanan para pelaku sejarah perpindahan ibukota Kabupaten Agam dari Bukittinggi ke Lubukbasung itu, juga disebutkan Asnidar, tokoh bundo kanduang di Kabupaten Agam, “saat beberapa pelaku sejarah saat ini masih ada, mestinya sudah dibuatkan buku sejarah, kapan perlu dibangun monument atau tugu khusus yang berisi catatan sejarah itu. Kami berharap, hal itu bisa menjadi perhatian Pemkab.Agam, “sebutnya.

Hal senada disebutkan beberapa tokoh ninik mamak lain, yang berharap moment peringatan perpindahan Ibukota Kabupaten Agam dari Bukittinggi ke Lubukbasung yang diperingati setiap tanggal 19 Juli itu, diabadikan dalam sebuah monument sejarah, karena hal itu akan menjadi bagian dari upaya mendorong pengetahuan dan pemahaman para generasimuda saat ini, begitu berat dan sulitnya memperjuangkan perpindahan ibukota tersebut, butuh waktu berpuluh tahun.

(HARMEN)

0Shares