Bukittinggi, KABA12.com — 149 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di kota Bukittinggi, terima program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Bantuan tersebut, merupakan program pemerintah pusat melalui Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpera).
Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim) Kota Bukittinggi, Nofrianto CH, mengatakan, untuk tahap pertama pada 2018 ini, Bukittinggi mendapat kuota penerimaan BSPS sebanyak 149 unit RTLH. Jumlah itu tersebar pada 7 kelurahan di Bukittinggi. BSPS merupakan bantuan stimulan dari pemerintah pusat untuk rehabilitasi/ bedah RTLH.
Adapun rincian penerima BSPS tahap pertama ini yakni, 17 unit rumah di Kelurahan Garegeh, 20 unit di Kelurahan Gulai Bancah, 25 unit di Kelurahan Pulai Anak Air, 25 unit di Kelurahan Bukit Apit Puhun, 20 unit di kelurahan Tarok Dipo, 4 unit di Kelurahan Belakang Balok dan 38 unit di Kelurahan Aur Kuning.
“BSPS ini adalah bantuan stimulan yang diberikan kepada masyarakat melalui kelompok yang telah ditunjuk sebagai penerima program BSPS. Dalam pekerjaannya, kelompok yang menyediakan bahan bangunan melalui toko bangunan yang telah disepekati, untuk pekerjaan rehabilitasi rumah warga penerima BSPS tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, awalnya penerima BSPS di Bukittinggi sebanyak 150 Kepala Keluarga (KK). Namun setelah dilakukan pendataan dan evaluasi, ternyata yang dapat direalisasikan hanya untuk 149 KK, sedangkan 1 KK lagi batal diberikan karena tanah yang bersangkutan sudah dialihkan ke pihak lain.
Penerima program BSPS ujar Nofrianto, sesuai dengan kriteria dan persyaratan yang telah ditentukan, seperti penerima BSPS sudah bekeluarga, rumah yang mereka tempati tidak layak huni, tanah/lahan penerima BSPS milik sendiri yang dibuktikan dengan sertifikat hak milik, berpenghasilan rendah, belum pernah menerima program BSPS, dan sejumlah kriteria lainnya.
“Masing-masing penerima BSPS mendapat bantuan sebesar Rp 15 juta untuk rehab rumah. Dari Rp 15 juta itu, 2,5 juta diperuntukan untuk upah tukang dan Rp 12,5 juta untuk material. Bantuan yang diberikan bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan dalam bentuk bahan bangunan,” jelasnya.
Khusus untuk Bukittinggi, program BSPS tahap pertama ini sudah berjalan sejak beberapa bulan lalu. Hingga saat ini, realisasi pekerjaan fisik rehab RTLH tersebut sudah mencapai 70 parsen. Ditargetkan pada pertengahan Oktober, pekerjaan rehab rumah sudah selesai.
“Kita berharap kepada masyarakat penerima BSPS beserta kelompok, untuk dapat mempercepat pelaksanaan pekerjaan. Sehingga program bedah rumah ini selesai dan tuntas sesuai jadwal yang telah ditentukan. Sebab selain tahap pertama, juga akan ada tahap dua penerima BSPS ini,” ungkap Nofrianto, yang juga selaku Ketua Tim Teknis Program BSPS.
Program ini guna membantu masyarakat untuk meningkatkan kualitas hunian yang mereka miliki, serta mengurangi jumlah RTLH di berbagai daerah. Diharapkan pada 2019 mendatang, Bukittinggi kembali mendapatkan kuota penerima BSPS ini, guna menyelesaikan rehabilitasi rumah tidak layak huni yang masih tersisa sekitar 230 unit lagi, yang tersebar di 24 kelurahan.
(Ophik)
