1076 Pesilat Meriahkan Festival Silat Tradisi Dang Tuanku IV 2019

Bukittinggi, KABA12.com — Sebanyak 1076 pesilat dari berbagai Provinsi dan daerah di Sumatera hadir di kota wisata Bukittinggi untuk mengikuti Festival Pencak Silat Tradisi dan Prestasi “Dang Tuanku IV/2019″.

Festival Pencak Silat itu dibuka oleh Walikota Bukittinggi di GOR Bermawi, Gulai Bancah, Sabtu (21/12).

Ketua Panitia Abrar Wahyudi melaporkan Festival Silat Dang Tuanku IV 2019 diikuti 122 kontingen yang terdiri dari 1076 orang dan berasal dari berbagai perguruan di Indonesia. Festival akan terbagi kepada dua kategori yaitu festival dan tanding.

“Festival Pencak Silat Dang Tuangku akan berlangsung delapan hari yatu tanggal 21-28 Desember 2019. Festival bertujuan agar silaturahim antar perguruan semakin kuat dan meningkatkan kecintaan kepada silat semakin kokoh,” jelasnya.

Ketua IPSI Kota Bukittinggi Herman Sofyan mengatakan festival ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Bukittinggi ke 235. Sebagai kado istimewanya, dari penetapan UNESCO yaitu Tradisi Pencak Silat telah diinskripsikan ke dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda pada siding Komite Warisan Budaya Tak Benda ke 14 pada 12 Desember 2019 di Bogota, Kolombia.

“Kita perlu berbangga karena saat melakukan penelitian ini UNESCO hanya menjadikan dua kota sebagai objek penelitiannya. Yaitu Kota Bandung untuk pulau Jawa dikenal dengan istilah Pencak dan Kota Bukittinggi untuk pulau Sumatera dikenal dengan istilah Silek,” ujar Ketua DPRD Bukittinggi itu.

Sementara, Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengatakan Pemko selalu mendukung kegiatan olah raga baik silat maupun olah raga lain. Karena Bukittinggi harus menjadi Kota Wisata Olah raga karena Olah Raga berkembang pesat termasuk Silat. Untuk itu, Pemko akan menyiapkan sarana prasarana untuk mendukungnya.

Festival silat ini telah masuk kalender kota untuk dilaksanakan tiap tahun. Terutama untuk menyambut Hari Jadi Kota ke 235. Kedepan menurut Ramlan perlu dipikirkan bagaimana gerakan, buku bacaan, dan alat pendukung silat. Karena setelah diresmikan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda maka penikmat silat akan berbondong-bonding datang melihat dimana tempat kelahiran Silat itu sendiri.

“Rugi rasanya kalau tidak kita kembangkan untuk menambah khasanah dunia pariwisata kita. Tentu kita butuhkan saran dari tuo-tuo silek bagaimana mengembangkan silat di Bukittinggi,“ tutupnya.
(Ophik)

0Shares