Pakandangan, KABA12 — Wakil Gubernur Sumatera Barat, Audy Joinaldy mengharapkan daerahnya bisa menjadi salah satu produsen terbesar penghasil madu galo-galo di Indonesia. Hal ini lantaran Provinsi Sumbar banyak memiliki kawasan hutan sehingga bisa dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya lebah madu galo-galo.
Harapan itu disampaikan langsung oleh Audy saat menutup sekolah lapang budidaya galo-galo di Farm KTH Ringan-ringan, Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Jum’at (17/3).
“Kita berharap Sumbar menjadi daerah penghasil madu galo-galo terbesar di Indonesia, karena semuanya memiliki potensi dan peluang yang besar. Namun itu semua pasti butuh waktu dan sumber daya manusia untuk mengembangkan – nya,” katanya.

Ia mengakui, permintaan madu galo-galo di Sumbar saat ini dinilai masih tinggi, namun untuk suplai/produksinya masih kurang sehingga harus dikembangkan secara maksimal karena memiliki rasa yang unik.
“Madu ini punya rasa yang cukup unik, nggak ‘enek’ tapi enak, ada rasa asam manisnya gitu dan tidak terlalu kental, jadi rasanya punya primadona tersendiri,” ungkapnya.
Menurutnya, madu galo-galo yang dijual dengan kisaran harga Rp 600 ribu sampai 1 juta per liter itu dinilai dapat menggerakkan ekonomi masyarakat secara rill.
Selain itu budidaya lebah madu galo-galo dinilai sangat kompatibel karena bisa dikembangkan di seluruh kabupaten/kota di Sumbar karena memiliki sumber pakan lebah yang banyak.
“Termasuk daerah Kepulauan Mentawai juga sangat cocok sekali, apalagi daerahnya sehingga budidaya lebah madu galo-galo sangat layak dikembangkan,” ujarnya.
Ia juga meminta seluruh anggota kelompok perhutanan sosial untuk selalu aktif mengkampanyekan tentang manfaat madu galo-galo bagi kesehatan melalui media sosial.
“Manfaatkan media sosial untuk mempromosikan dan mengkampanyekan manfaat dan rasa madu ini supaya bisa viral dan dikenal banyak orang,” kata Audy.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozarwardi menyebutkan, sekolah lapang tersebut sebelumnya dilaksanakan tiga hari dalam rangka mewujudkan program Sumatera Barat yang unggul, salahsatunya adalah budidaya lebah galo-galo yang dapat meningkatkan pendapatan petani hutan.
“Kegiatan sekolah lapang dilaksanakan supaya para peserta bisa mengetahui secara langsung mengenai budidaya lebah madu galo-galo terutama di sub kegiatan perbanyakan koloni yang didampingi langsung oleh para instruktur yang berkompeten,” katanya.
Pihaknya berharap agar para peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat selama kegiatan sekolah lapang, sehingga mampu mandiri mengembangkan budidaya lebah madu galo-galo di daerah masing-masing.
Disebutkan Dinas Kehutanan Sumbar berencana akan menyalurkan bantuan 3.500 stup koloni lebah madu galo-galo tahun ini ke seluruh kelompok perhutanan yang ada di Sumbar.
“Tahun ini ada penambahan pengadaan stup lebah madu galo-galo menjadi 3.500, sedangkan tahun sebelumnya hanya 3 ribu stup saja,” jelasnya.
(Bryan)
