Galetek

Tapak Kedudukan di Tanah Kelahiran

HARMEN

Catatan : Harmen

Judul ini mungkin diasumsikan sebagai penonjolan “isme” tentang keakuan akan peran dan eksistensi, yang terkadang membuat semua kelabu ditengah senja beriring gerimis.

Terkadang “isme” bertaring untuk berkuasa akan sesuatu yang terkadang untuk dijangkau, karena jangkauan tangan pun masih sangat singkat untuk menjawab mimpi yang masih terus menjadi hantu-hantu dalam rangkaian bunga tidur yang mendengkur.

Alangkah naïf sebetulnya, isme dan keakuan yang yang sebelumnya bisa menjadi satu disaat pengakuan akan bersama itu kuat, bersama itu bisa, bahkan kebersamaan itu menjadi sebuah kekuatan hakiki yang bisa melawan semua aral yang terkadang hanya dibuat sebagai sebuah isu yang muaranya akan berbuah sesal tak berujung.

Apalagi dalam kekinian era. Semua bisa menjadi viral, semua bisa menjadi isu hangat, yang terkadang sengaja dibangun untuk sebuah harap mencapai mimpi yang masih sebatas angan, karena untaian potensi justru hanya bisa terbangun rapi dengan irama yang sama. Bersama.

Alangkah luar biasanya, jika satu harap, dengan mengabaikan “isme” bisa menjadi pondasi untuk memacu rasa bersama, karena rasa bersama akan menjadi bangunan megah untuk semua. Setidaknya untuk menjawab tentang kekuatan sebuah potensi.

Karena sesungguhnya fitrah manusia, sebagai ciptaan Tuhan. Ada garis demarkasi bernama takdir yang harus dijalani. Karena semua, justru berawal dari pijakan di tapak bertuan yang kerap memberi warna-warni akan semua perjalanan.

Sesungguhnya, semua akan ada batasnya. Semua mimpi, semua potensi akan ada demarkasi penyalurannya, apalagi jika semua harapan bisa bisa terbangunnya, bahkan bisa dijalarkan untuk semua unsur dan kepentingan, sehingga “isme” akan meninggalkan egoisme yang terkadang harus tetap dibungkus rapi dengan ragam pertimbang, demi kebersamaan, demi kemajuan, serta demi segala demi, karena hidup untuk hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga, lingkungan dan seluruh masyarakat, jika memang ingin berbuat lebih. Karena pada prinsipnya itulah fitrah hidup dan berkehidupan.

Adalah di senja, Sabtu, 8 Februari 2020, disaat penulis ikut mengantar pemakaian ayah seorang sahabat yang menyaksikan, betapa tapak kedudukan semua manusia akan kembali ke bumi, ke pangkuan Illahi Rabbi. Jadi, tiadalah kekal, segala pongah, segala junawa, bahkan segala isme bisa menjadi sebuah kebanggaan yang harus terus dipelihara, karena fitrah manusia sesungguhnya tercipta untuk sesama. Semoga. (*)

To Top