Tangkis Masalah Sosial dengan Kearifan Lokal

Bukittinggi, KABA12.com — Sejak beberapa waktu terakhir, sering muncul masalah sosial kemasyarakat di tengah warga, yang mengikuti dengan perkembangan zaman. Dimana, perkembangan zaman tersebut, juga memiliki efek negatif dan dapat mempengaruhi kualitas generasi muda kedepan.

Akibatnya, banyak pelajar dan mahasiswa yang digadang-gadangkan menjadi penerus bangsa, terjerumus ke dalam masalah sosial. Seperti, narkoba, LGBT, pernikahan dini, pergaulan bebas dan sejumlah permasalahan sosial lainnya.

Berangkat dari hal inilah, sejumlah pemerhati budaya, mengadakan pertemuan ringan dengan sejumlah Tuo Silek, dan juga unsur pemerintahan kabupaten Agam, seperti Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga, dan Dinas Pendidikan Kebudayaan Agam. Diskusi yang dilaksanakan di ruang meeting Hotel Kharisma Bukittinggi, Sabtu (10/03) tersebut, membahas tentang upaya mengangkat kearifan lokal, sebagai penangkal permasalahan sosial yang timbul saat ini.

Dedi Mirza, salah seorang pemerhati budaya, mengungkapkan, salah satu faktor mudahnya budaya asing menggerogoti generasi muda, di tengah perkembangan teknologi saat ini, memang tak lepas dari minimnya pengetahuan dan pembelajaran terkait seni tradisi yang berlandaskan kearifan Minangkabau. Sehingga tameng yang dapat menghalau timbulnya permasalahan sosial itu tidak ada.

“Kita harus akui, krisis ruang terhadap kebudayaan Minangkabau di tengah perkembangan zaman yang didominasi kebudayaan asing, memang terjadi saat ini. Sehingga generasi muda terjerumus kepada hal hal negatif yang merusak kualitas dan masa depan mereka,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Dedi Mirza dengan diskusi awal ini, dibahas pokok pikiran dan pokok permasalahan secara umum, serta upaya menyelesaikannya. Sehingga kedepan, dapat dilakukan pertemuan lanjutan dengan ruang lingkup lebih besar, untuk dicapai sebuah kesepahaman, demi meningkatkan serta mengembangkan kembali kearifan lokal di era penuh serangan budaya asing yang cukup mengkhawatirkan saat ini

Edi Utama, salah seorang praktisi seni budaya yang menjadi pembicara dalam pertemuan itu menyampaikan, seluruh pihak harus dapat mensiasati bagaimana seni tradisi Minangkabau, dapat dikembangkan kepada masyarakat, terutama generasi muda di tengah perkembangan zaman saat ini. Kesenian sebagai pintu kebudayaan dan keberagaman seni dan budaya Minangkabau yang ada saat ini di berbagai daerah menjadi kekuatan utamanya.

“Salah satu upaya, dengan memasukkan seni tradisi dalam program ekstrakurikuler. Sehingga seni tradisi itu, dapat benar-benar dimanfaatkan. Jangan seni dan tradisi menjadi hafalan dan diikuti dengan keterpaksaan. Tapi bagaiamana kesenian dan tradisi Minangkabau ini, diterapkan dalam kehidupan sehari hari, sebagai landasan bersikap sehingga timbul rasa kecintaan tehadap kebudayaan,” ujarnya.

(Ophik)

0Shares