Kaba Terkini

Tanah Datar Aktualisasikan Motif Kuno Nagari Tuo Pariangan Menjadi Batik

Tanah Datar, KABA12.com — Dewan Kerajinan Nasional Daearah (Dekranasda) Kabupaten Tanah Datar bakal mengaktualisasikan motif kuno Nagari Tuo Pariangan menjadi motif batik yang akan menjadi ciri khas Minangkabau.

Hal itu dikatakan Ketua Dekranasda Tanah Datar Ny. Emi Irdinansyah dalam Focus Group Discussion (FGD) Draf Buku Kerajinan dan Inovasi Iluminasi Naskah Kuno Minangkabau untuk Industri Kreatif yang dilaksanakan Balitbang Provinsi Sumbar di Ballroom Hotel Emersia Batusangkar, Senin (20/11).

“Nagari Tuo Pariangan tidak hanya dikenal sebagai nagari terindah di dunia, namun juga memiliki ratusan aneka motif batik kuno yang terdapat pada Alqur’an koleksi masyarakat setempat yang dinamakan motif kuno Nagari Tuo Pariangan. Ini sangat berpotensi jika dikembangkan menjadi batik yang indah,” sebutnya.

Ditambahkan, motif-motif kuno tersebut sarat makna dan filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau zaman dahulu, “jadi kita harus benar-benar memahaminya sebelum kita aktualkan kedalam berbagai bentuk kerajinan”, ujar Emi.

Ketua TP-PKK kabupaten Tanah Datar itu berharap, misi pemerintah dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama, adat dan budaya, melalui karya seni, serta dapat meningkatkan ekonomi masyarakat berbasis kerakyatan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya daerah.

“Secara luas potensi batik di Indonesia saat ini sangat menjanjikan. Khusus di Tanah Datar ada potensi batik seperti Nagari Tuo Pariangan. Ada motif kuno yang akan kita angkat,” ungkapnya.

Kepala Badan Litbang Provinsi Sumatera Barat DR. Ir. Refti Wafda, MTp mengatakan tujuan dari FGD ini ialah menginventarisasi ragam motif iluminasi naskah kuno Minangkabau, serta mengembangkan khazanah iluminasi naskah kuno di Nagari Pariangan untuk motif batik Minangkabau.

“Naskah kuno dengan kandungan sastra, sejarah, agama, pengobatan tradisional memiliki ragam Iluminasi (ragam hias) yang tersimpan di surau dan masih belum termanfaatkan dengan baik dan ini akan berpeluang bagi pengembangan ekonomi kreatif masyarakat,” ucapnya.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Sumbar Arkadius Dt. Intan Bano, pada sesi diskusi menjelaskan, Minangkabau identik dengan warna hitam merah dan kuning, kalau ada warna biru dan lain lain itu tidak perlu menjadi permasalahan yang penting penggunaannya yang tepat.

“Kita juga identik dengan Islam dan motif yang dibuat pun sesuai dengan tatanan kehidupan masyarakat jadi kita harus dudukkan dengan tokoh agama adat dan unsur lain yang ada dinagari tersebut. Soal motif apakah ada kesamaan dengan nagari lain dari nagari tuo atau tidak, yang penting asal usul daerah harus diperjelas”. Katanya.

Hal senada disampaikan Ketua LKAAM Sumbar M. Sayuti. MPd.
Dijelaskan, naskah kuno Minangkabau tentang inovasi iluminasi untuk industri kreatif batik ini juga harus memperhatikan kearifan lokal.

“Kita tentu harus punya ilmu tentang pemahaman ini, dan sesuai kebijakan kita sebagai orang Minang dan apakah penelitian ini sudah memperhatikan kearifan lokal atau belum”, ucapnya.

Melalui naskah kuno Minangkabau ini diharapkan memberi dukungan terhadap pengembangan dunia wisata, khususnya wisata religi ziarah di Sumatera Barat yang belum terkelola dengan baik dan maksimal.

(Jaswit)

To Top