Kaba Terkini

Sukam, Alat Tangkap Ikan Leluhur Yang Masih Dipertahankan

Lubukbasung, KABA12.com — Warga Kampuang Pariak, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam, masih mempertahankan alat tangkap leluhur berupa sukam dalam menangkap ikan di Sungai Batang Antokan.

Menurut Ketua Kelompok Piliang, Wel (42), Jumat (21/8), sukam itu merupakan alat tangkap tradisional turun temurun semenjak ratusan tahun lalu.

Ia menjelaskan, alat tangkap sukam itu terbuat dari pohon bambu yang disusun di dalam sungai dengan bantalan pohon kayu pilihan. Biaya untuk membuat sukam itu sekitar Rp1,5 juta per unit dengan waktu pembuatan selama satu hari.

“Pembuatan sukam tergantung dengan cuaca dan material. Apabila cuaca bagus dan material cukup, maka bisa selesai selama satu hari,” ujarnya.

Untuk hasil tangkapan ikan, tergantung kondisi cuaca dan air sungai. Apabila curah hujan tinggi dan air sungai besar, hasil tangkapan ikan berupa gariang, ikan zidat, nila dan lainnya mencapai sekitar 50 kilogram per hari.

Ikan itu akan masuk ke dalam sukam dan anggota akan memilih ikan tersebut untuk dikumpulkan di suatu tempat.

Untuk pemasaran hasil tangkapan ikan itu dijual ke warga sekitar Lubukbasung dan Pasaman Barat dan hasil penjualannya akan dikeluarkan untuk modal pembuatan sukam dan sewa lahan Rp4 juta selama tiga tahun. Sisanya akan dibagi ke kelompok dengan jumlah 10 orang.

Sementara tokoh masyarakat Garagahan, Tarazi (58) menambahkan alat tangkap sukam ada sekitar 10 unit di sepanjang aliran Sungai Batang Antokan. “Alat tangkap sukam itu ramah lingkungan dan menjadi daya tarik bagi masyarakat setempat, karena alat tangkap berupa tradisional,” katanya.

(Jaswit)

0Shares
To Top