Seminar Internasional, Jam Gadang Dalam Berbagai Perspektif

Bukittinggi, KABA12 — Dalam rangka 100 Tahun Jam Gadang, Pemerintah Kota Bukittinggi bekerja sama dengan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 gelar Seminar Utama Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif.

Kegiatan tersebut berlangsung di Balairuang Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis (04/06).

Seminar ini menghadirkan Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi, sebagai pembicara kunci. Selain itu, sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri turut berbagi pandangan, yakni Prof. Gusti Asnan (Indonesia), Arnaud Kokosky (Belanda), Berthold Damshäuser (Jerman), Nanang Asfrianal (Indonesia) dan Dr. Les Wicks (Australia).

Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Syaiful Efendi, menjelaskan, peringatan 100 Tahun Jam Gadang menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sejarah sekaligus peran strategis Jam Gadang sebagai ikon Kota Bukittinggi sejak didirikan pada tahun 1926. Keberadaan Jam Gadang telah memberikan dampak yang luas terhadap perkembangan Kota Bukittinggi, baik dari sisi perekonomian, sosial, infrastruktur maupun hubungan antardaerah. Seminar ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai peran Jam Gadang sebagai magnet yang mendorong kemajuan kota.

“Perjalanan sejarah Bukittinggi tidak dapat dipisahkan dari fungsi perdagangan yang berkembang sejak abad ke-18, kemudian diperkuat pada masa pemerintahan kolonial Belanda sebagai pusat pemerintahan dan militer di wilayah Sumatera Barat. Dalam perkembangan tersebut, Jam Gadang dibangun sebagai salah satu penanda penting kota yang hingga kini menjadi simbol Bukittinggi,” jelasnya.

Syaiful efendy juga menguraikan perubahan bentuk atap Jam Gadang yang mengikuti dinamika sejarah, mulai dari arsitektur bergaya Eropa pada masa Belanda, berubah menjadi pagoda pada masa pendudukan Jepang, hingga akhirnya menggunakan atap gonjong khas Minangkabau yang menjadi identitasnya saat ini.

“Bukittinggi tidak hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan bangsa. Saat Agresi Militer Belanda II, ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap, Bukittinggi menjadi pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang menjaga keberlangsungan eksistensi Republik Indonesia di mata dunia internasional,” ungkapnya

Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 yang bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang. Momentum ini bukan hanya menjadi perayaan sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga simbol semangat masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi pengetahuan, literasi, martabat, kemakmuran dan perdamaian.

“Sejarah telah lama membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang saling memahami dapat hidup berdampingan dalam damai. Ketika orang saling mengenal melalui bahasa, seni dan pembelajaran, ruang kesalahpahaman akan menyempit dan landasan bagi kerja sama yang berkelanjutan akan semakin kuat. Saya percaya IMLF bukan sekadar perayaan literasi, tetapi juga wujud nyata diplomasi budaya yang mempererat hubungan antar bangsa,” ujarnya.

(Ophik)

0Shares