Oleh : Rizki Ahmad Rifandi
Perintah puasa dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
Perspektif psikologi dan kesehatan mental suatu kemampuan mengendalikan diri merupakan indikasi utama sehat tidaknya kehidupan rohaniah dan spritualitas seseorang. Orang yang sehat secara kejiwaan akan memiliki tingkat kemampuan pengendalian diri yang baik perbuatan maupun tindakan, sehingga terhindar dari berbagai gangguan jiwa ringanmaupun yang berat.
Konsep tersebut tidak semata dimaknai secara dogmatis atau ritual agama semata, melainkan melibatkan aspek psikologi seperti persepsi dan sikap yang mengarah pada tujuan hidup, sikap positif dan kepuasan hidup.
Dimensi psikologi merupakan sebuah maqam jiwa yang utuh dan mapan beberapa dimensi yang menjadi indikasi seseorang telah mencapai kesejahteraan jiwa yang kaffah.
Adapun dimensi tersebut meliputi sikap positif dalam memandang diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Selain itu, jiwa yang teduh juga ditandai dengan kemampuan individu dalam membuat keputusan, mengontrol perilaku, dapat menciptakan dan mengatur lingkungan agar kompatibel dengan kebutuhannya, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan diri.
Orang yang memandang positif terhadap dirinya juga akan mendasarkan semua perilakunya terhadap batasan nilai subyektif individu dalam merespons dan berperilaku kepada orang lain. Sehingga berimplikasi terhadap adanya sikap positif terhadap orang lain, bahkan terhadap semua makhluk.
Sikap positif ini selaras dengan ciri insan takwa yang senantiasa menjauhkan diri dari sikap negatif terhadap orang lain, syak wasangka, dan selalu bercermin diri terhadap setiap perilaku yang didasarkan pada ketaatan dan kehati-hatiannya dalam mengabdi kepada Sang Pencipta.
Dimensi ketaatan dan ketakutan seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah sebuah sikap yang berimplikasi pada keseimbangan perilaku hidup (Habluminallah, Wahablumminannas). Bukan semata-mata persoalan pahala, surga ataupun neraka, akan tetapi sebagai sarana membina hubungan baik antar manusia dan Tuhan.
Oleh karena itu, orang yang telah mencapai ketakwaan pasti mampu meninggalkan perkara batil. Batil dari kacamata dzahir manusia maupun yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT. Berkelindan dengan itu juga mampu menentukan perilaku yang tepat demi kepuasan batiniyah yang bersih dan Illahiyah.
Seseorang akan berkarakter seperti malaikat yang mendidik jasmaniah untuk setia kepada menjaga rohaniah tetap di jalan sang Khalik Sebab, ia menghindari makanan-makan zahir dan memilih mengkonsumsi makanan membaca alquran, zikir, tahmid,tasbih dan tahlil.
Dalam hadis Qudsi disebutkan bahwa Allah Swt berfirman: Puasa berhubungan dengan-Ku dan Aku pula yang akan membalas orang yang berpuasa. Bila orang yang berpuasa melakukan puasanya dengan ikhlash, cinta dan ‘ubudiyyah dan berserah diri kepada sang Khalik (penghambaan) serta pelaksanaan perintah Ilahi maka sejatinya puasa sekelas ini lebih tinggi daripada sekadar masuk surga dan tidak masuk neraka karena ridho Allah adalah tujuan kita sebagai hamba untuk bertemu dengan Tuhan.
Dengan demikian, puasa dapat ditafsirkan secara sufistik seperti ini bahwa aku berpuasa bukan untuk mendapatkan surga dan terhindar dari neraka, tetapi karena cinta kepada Ma’bud (Yang Berhak Disembah), Ma’syuq (kekasih) dan Mahbub (Yang Tercinta). Dan karena Allah ta’ala memerintahkan puasa.
Tahapan berikutnya dalam perspektif sufistik terhadap puasa, puasa memiliki peran penting dalam sair wa suluk (perjalanan spiritual) menuju Allah SWT. Sebab, dengan berpuasa dan merasakan kelaparan dan kehausan serta menjalankan perintah Ilahi, hati menjadi bening dan cemerlang dan orang yang berpuasa memikirkan nasib kaum dhuafa dan fakir-miskin.
Dengan kata lain, ‘arif di satu sisi “melihat” Allah dan di sisi lain memandang makhluk-Nya. Dan puasa memiliki keistimewaan dua pandangan yang berbeda seperti ini.
Hasil dan manfaat puasa menurut sufi adalah berlepas dari tirai kelalaian dan kelupaan. Sebab, ‘arif/sufi meyakini bahwa dunia ini adalah dibangun di atas pilar kelalaian dan manusia di dunia ini cenderung lalai. Dan bila memang kita mampu berpuasa secara benar dan beribadah juga secara sahih maka kita akan selamat dari cengkraman kelalaian ini.
Rumi saat membahas puasa, ia mengatakan bahwa manusia dalam berpuasa harus memperhatikan seluruh masalah dan seluruh ibadah adalah cahaya syariat dan penyebab sampainya seseorang ke jalan kesempurnaan.
Rumi menilai bahwa zahir puasa adalah imsak dari makan dan minum namun ia memaknai puasa secara khusus, yakni puasa menurut tasawuf adalah seseorang yang melakukan imsak (menahan diri) dari selain Allah. Dan zahir imsak ini adalah tidak makan dan tidak minum, sedangkan batinnya adalah imsak dari selain Allah SWT.-(*).-
