Perempuan meski sudah menikah harus tetap punya penghasilan sendiri. Karena perempuan yang sudah menjadi istri dan punya penghasilan sendiri, cenderung punya kehidupan yang jauh lebih tenteram dan sejahtera.
Tak ada yang mampu menerka masa depan, cuma bisa persiapkan sebaik-baiknya. Pastinya, dua pilar penopang finansial jauh lebih baik daripada satu
Bagaimana pun sebuah rumah tangga akan lebih kokoh jika terdiri dari dua pilar finansial. Supaya kelak saat penghasilan suamimu tengah tersendat, kamu punya tabungan dari penghasilan pribadimu
Bukannya berperasangka buruk pada pasangan, tapi nyatanya masalah keluarga besar memang isu sensitif. Lebih aman jika punya penghasilan sendiri untuk memberi bantuan finansial pada orangtua atau saudara-saudaramu.
Meski kelak suamimu punya penghasilan yang lebih dari cukup, penghasilanmu sendiri bisa dialokasikan untuk membantu keuangan keluarga. Entah untuk menyokong finansial bulanan orangtua atau membantu biaya pendidikan adik-adikmu. Walaupun sudah menikah, tak berarti tekad kuatmu untuk menjadi tempat bersandar yang kokoh bagi keluarga, terhenti begitu saja. Setidaknya, kamu harus menyiapkan tabungan untuk menyokong finansial orangtua saat mereka pensiun kelak.
Zaman sekarang, punya penghasilan itu sama sekali tidak berarti harus mengorbankan peranmu sebagai istri atau ibu
Dengan kecanggihan teknologi saat ini, perempuan punya banyak peluang untuk punya penghasilan sendiri tanpa keluar rumah. Selama ada koneksi internet, mereka bisa terhubung dengan konsumen nun jauh di luar sana sekalipun. Beberapa pekerjaan yang bisa dilakoni di rumah diantaranya bisnis online, penulis lepas, hingga selebgram.
Beruntunglah kita generasi millennial, keseimbangan antara kehidupan profesional-privat lebih diprioritaskan. Makin banyak karier yang jam dan jenjangnya fleksibel
Tentu saja karier tradisional dambaan perempuan seperti dosen atau guru masih bisa jadi pilihan bijak bagi perempuan yang ingin berkarier dengan jam fleksibel. Bekerja sebagai guru, misalnya berangkat pagi hari dan pulang paling telat jam 2 atau 3 sore.
Sepulang itu kamu masih punya waktu luang untuk istirahat sejenak dan beres-beres rumah. Bahkan masih sempat bikin camilan sore untuk suami. Setidaknya, jika kamu bekerja sebagai guru, kamu masih bisa stand by menunggu suami pulang dan mengawasi anak-anak belajar.
Bahkan saat ini adalah masa perubahan dimana stay-at-home dad juga bisa dihargai dan tidak dicemooh. Yang lebih penting dari gengsi sosial, adalah apa yang terbaik dan sesuai untuk keluargamu.
Perempuan pun sekarang punya peluang untuk tetap bisa mengejar karier yang mungkin butuh jam kerja tinggi
Ketika persentase perempuan yang mampu lulus S2 semakin tinggi, secara kualitas perempuan juga dapat bersaing memperebutkan karier penuh prestise yang sebelumnya hanya didominasi pria. Disinilah mungkin isu berkeluarga masih jadi dilema besar. Kuncinya adalah kerjasama kalian sebagai pasangan.
Terlebih lagi kalau kamu tinggal di negara yang punya kebijakan cuti melahirkan terbaik di dunia. Di mana perempuan didukung secara penuh untuk dapat menjalankan perannya sebagai profesional dan ibu.
Kamu akan sangat iri dengan perempuan di Eropa Utara, seperti Swedia dan Islandia yang begitu ramah terhadap perempuan. Para ibu di Swedia punya jatah cuti melahirkan lebih dari 1 tahun (480 hari) dan tetap dapat upah bulanan sebesar 80 % dari gaji. Nggak hanya Ibu-ibu, para ayah di Swedia juga dapat jatah cuti melahirkan selama 2 bulan.
Bertekad kuat untuk punya penghasilan sendiri, tak berarti mengecilkan peran suami atau tidak bersyukur dengan rezeki yang didapatnya. Melainkan semata demi orangtua, adik-adik, dan juga dirimu sendiri agar tetap berkembang nantinya.
(sumber: Hipwee.com)