Pemkab Agam Pastikan Ikan Rinuak Masih Ada di Danau Maninjau

Lubukbasung, KABA12 — Pemerintah Kabupaten Agam melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan memastikan populasi ikan rinuak masih ada di Danau Maninjau.

Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Rosva Deswira, Senin (20/3).

Rosva mengatakan, meski ikan rinuak saat ini sulit didapat oleh nelayan, namun dipastikan populasinya masih ada sampai sekarang

“Kita pastikan ikan rinuak itu masih ada di Danau Maninjau meskipun hasil tangkapan para nelayan menurun,” katanya.

Menurutnya, turunnya hasil tangkapan nelayan tersebut disebabkan oleh faktor kualitas perairan Danau Maninjau yang memburuk sehingga ikan rinuak banyak bermigrasi ke muara sungai untuk mencari sumber air bersih.

Ia menambahkan, biasanya ikan rinuak hasil tangkapan nelayan itu rata-rata bisa mencapai 20 kilogram perhari, namun sekarang hanya 3 sampai 5 kilogram per hari. Penyebabnya karena kualitas air danau menurun.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Rosva Deswira

“Ikan rinuak sekarang bermigrasi ke muara sungai untuk mencari sumber air bersih, dan diyakinkan populasinya masih ada,” katanya.

Ia menyebut, kelangkaan populasi ikan rinuak di Danau Maninjau sebelumnya pernah terjadi pada tahun 2016 – 2018 akibat buruknya kualitas perairan danau dan menyebabkan ribuan ikan mati pada saat itu.

“Peristiwa kelangkaan ikan rinuak pernah terjadi pada tahun 2016 sampai 2018, dimana ikan endemik itu sulit didapat. Namun seiring dengan membaiknya kualitas perairan danau maka populasinya akan bertambah lagi,” jelasnya.

Kelangkaan ikan rinuak di Danau Maninjau saat ini ramai diperbincangkan oleh publik sejak beberapa waktu terakhir. Bahkan para pelaku UMKM menjerit karena tidak mendapatkan ikan endemik tersebut sebagai bahan utama membuat olahan makanan kuliner khas Danau Maninjau.

Salah seorang pelaku UMKM di Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Zulnaldi Tanjung menyebutkan, kelangkaan ikan Rinuak khas Danau Maninjau itu menyebabkan para pelaku UMKM menjerit lantaran kesulitan mendapatkan bahan baku, sehingga membuat produksi olahan ikan endemik tersebut terhenti.

“Sejak awal Desember 2022 sampai sekarang kami tidak memproduksi olahan ikan rinuak karena kesulitan mendapatkan bahan baku utama,” ujarnya Senin (13/3) lalu.

Ia mengatakan, kelangkaan ikan Rinuak di pasar tradisional sudah terjadi semenjak November lalu pasca kematian ikan di Danau Maninjau secara massal akibat buruknya kualitas air danau.

“Ikan Rinuak tidak muncul karena kondisi air danau yang buruk dan tercemar sehingga mengakibatkan populasinya berkurang,” ungkapnya.

(Bryan)

0Shares