Pembangunan Pariwisata, Wujudkan Sumbar Sejahtera

Bukittinggi, KABA12.com — Pembangunan kepariwisataan merupakan potensi yang menyatukan banyak sektor pembangunan dan memiliki multiplier effect dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu potensi Sumatera Barat dan keragaman potensi masing-masing Kabupaten/Kota menjadi inspirasi bersama membangun Sumatera Barat yang lebih baik dimasa datang.

Hal itu diungkap Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit pada acara, Jamuan Makan Malam dan Seminar Nasional Pariwisata 4.0, peluang dan Tantangan Untuk Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia, Bukittinggi, Sabtu (27/10) malam, di Istana Bung Hatta, Bukittinggi.

Seminar ini juga dikaitkan dengan kegiatan menjelang 100 tahun Institit Teknologi Bandung (ITB) di Indonesia (1920 -2020). Hadir dalam kesempatan itu Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementrian Pariwisata RI, Rizky Handayani, Wakil Rektor ITB Dr. Miming Miharja, Ketua PPIB ITB Ridwan Jamaludin, Ceo SSP Holding Dewi Kam, Bupati /Walikota se Sumatera Barat, Tokoh Budaya Sumbar Dr. Moctar Naim serta beberapa orang para alumni ITB.

Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, menyampaikan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat kunjungan wisatawan asing ke provinsi itu pada Juli 2018 mencapai 5.099 orang atau naik 12,09 persen dibanding Juni 2018 yang tercatat sebanyak 4.549 orang.

“Namun disayangkan, bisa dibilang, saat ini yang baru menikmati kunjungan wisata Sumbar baru Padang dan Bukittinggi. Perlu kiranya daerah kabupaten/kota lain mencari peluang potensi wisata agar juga dapat memanfaatkan kunjungan wisata ini sehingga berdampak juga bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah masing-masing. Mungkin fasilitas pendukung menjadi perhatian lebih besar, apakah itu penginapan hotel-hotel dan event kegiatan pariwisata daerah masing-masing dihidupkan lebih banyak lagi,” ungkap Nasrul Abit.

Sumatera Barat saat ini memang masih ada 3 kabupaten tertinggal, Pasaman Barat, Solok Selatan dan Mentawai.

Menurut data yang ada saat ini Pasaman Barat dan Solok Selatan bakal keluar dari daerah tertinggal pada tahun 2019.

“Sementara Mentawai masih banyak pembangunan yang mesti dilakukan. Seperti infrastruktur jalan, pelabuhan antar pulau, transportasi lokal baik laut dan darat yang relatif masih mahal.
Listrik dan jaringan telekomunikasi dimana masih banyak daerah dipedalaman belum dialiri listrik serta masih blankspot,” terang Nasrul Abit.

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ir. Rizki Handayani Mustafa, MBTM, menegaskan, digital destination dan nomadic tourism merupakan strategi untuk merebut wisatawan mancanegara (wisman).

Pada tahun ini, Kemenpar menargetkan 17 juta wisman dan akan meningkat menjadi 20 juta wisman pada 2019.

Ricky Handayani menjelaskan bahwa destinasi digital adalah destinasi yang heboh di dunia maya, viral di media sosial dan nge-hits di instagram.

“Generasi milenial atau lebih populer kids zaman now sering menyebut diferensiasi produk destinasi baru ini dengan istilah instagramable. Saya ingin tahun 2018 ini ada 100 destinasi digital di 34 provinsi di Tanah Air,” ujar Rizky.

Rizky Handayani menambahkan, Digital Destination menjadi tuntutan di era booming teknologi.

Nomadic tourism sebagai solusi dalam mengatasi keterbatasan unsur 3A (atraksi, amenitas dan aksesibilitas) khususnya untuk sarana amenitas atau akomodasi yang sifatnya bisa dipindah-pindah dan bentuknya bermacam-macam seperti glamp camp, home pod dan caravan.

Sedangkan, sebagai aksesibilitasnya adalah sea plane dengan mudah membawa wisatawan dari pulau ke pulau, apalagi seperti di Indonesia di mana jumlah pulau mencapai 17 ribu lebih.

Nomadic Tourism memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena mengurusinya juga relatif mudah, sehingga idealnya para pelaku industri pariwisata mau mengembangkan bisnis ini, terutama untuk aksesibilitas dan amenitasnya karena konsep ini cepat memberikan keuntungan komersial,” ujarnya.

(Ophik)

0Shares