Pejabat Lapas Bukittinggi Mulai Diperika, Ditjenpas Sumbar Terus Dorong Pembinaan Positif Untuk WBP

Bukittinggi, KABA12 — Peristiwa penyalahgunaan alkohol oleh puluhan oknum warga binaan di Lapas Kelas II A Bukittinggi, menyita perhatian publik. Pihak Kanwil mengaku, tengah melakukan pemeriksaan dengan membentuk tim internal untuk melakukan peninjauan, pemeriksaan dan penyelidikan kejadian tersebut.

“Hingga saat ini beberapa Ditjenpas Sumbar telah mengalihtugaskan pejabat Lapas Bukittinggi dan memindahkan sejumlah warga binaan pemasyarakatan dalam rangka pemeriksaan,” ujar Kakanwil Ditjenpas Sumbar Marselina Budiningsih, Senin (05/05).

Ditjenpas Sumbar juga memastikan tidak ada unsur kesengajaan atas kejadian di Lapas Kelas II A Bukittinggi itu.

Bahkan, sejak warga binaan mengeluhkan efek usai meminum alkohol, pihak lapas langsung membawa warga binaan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

“Yang perlu digarisbawahi atas kasus di Lapas Kelas IIA Bukittinggi, peristiwa tersebut tidak terjadi karena adanya unsur kesengajaan dari pihak Lapas. Minuman yang dikonsumsi berupa alkohol dengan kadar 70 persen tersebut tidak datang dari luar Lapas, melainkan diambil dari ruangan pembinaan pembuatan parfum,” ujar Marselina menjelaskan.

Ia menegaskan pembuatan parfum adalah program pembinaan yang diberikan oleh Lapas Bukittinggi kepada warga binaan dengan harapan bisa menjadi bekal kemampuan mereka saat keluar nanti.

“Sejatinya alkohol tersebut diperuntukkan sebagai bahan baku pembuatan parfum, bukan untuk dikonsumsi atau diminum yang jelas-jelas bisa membahayakan kesehatan. Segenap jajaran Ditjenpas di Sumbar menyampaikan rasa belasungkawa atas apa yang terjadi dan mendoakan ketabahan bagi keluarga korban,” ungkapnya.

Marselina Budiningsih menambahkan, Kanwil Ditjenpas Sumbar terus melaksanakan arahan dan programf Kementerian Imipas, dalam memberikan pembinaan terbaik kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas dan Rutan. Ditjenpas Sumbar terus berjuang secara berkelanjutan untuk mengubah wajah atau “image” penjara dari yang awalnya suram, menjadi lembaga pemasyarakatan yang aktif dan produktif.

“Tentu jadi tantangan tersendiri bagi jajaran pemasyarakatan untuk menuntun seseorang yang pernah bersalah di masa lalu, menjadi manusia yang lebih baik dan produktif serta mempunyai keterampilan ketika keluar dari penjara,”ujar Marselina.

Program ini telah dibuktikan dengan berbagai program pembinaan baik berupa keterampilan ataupun kepribadian yang sudah dijalankan di seluruh UPT Pemasyarakatan yang ada di Sumbar.

Saat ini, bisa dilihat secara nyata betapa Lapas dan Rutan di Sumbar sudah berubah lebih produktif jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Terbukti dalam kegiatan IPPA Fest yang dilaksanakan di Lapangan Banteng Jakarta Pusat April 2025 lalu.

Pada kegiatan itu, produk karya warga binaan perwakilan UPT Sumatra Barat terjual habis seperti produksi sandal hotel, sandal wanita, sandal kulit pria, bawang goreng, keripik sanjai, jilbab sulam kepala dan puluhan kerajinan tangan lainnya.

“Hal tersebut membuktikan bahwa produk hasil karya warga binaan (UMKM) diakui oleh masyarakat. Selain hal tersebut di atas, Kanwil Ditjenpas Sumatera Barat beserta 26 UPT telah memberikan bantuan sosial kepada keluarga Warga Binaan dan masyarakat kurang mampu di sekitar Lapas,” kata Marselina.

UPT Pemasyarakatan berusaha melakukan perubahan secara masif, menyelenggarakan berbagai program pembinaan mulai dari pertanian, peternakan, perkebunan, hingga yang berskala industri.

Program Akselerasi Menteri Imipas Khusus Pemasyarakatan, diantaranya, memberantas peredaran narkoba dan pelaku penipuan dengan berbagai modus di Lapas dan Rutan.

Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kendala, yang mempengaruhi kegiatan tersebut di atas seperti yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi

“Kedepan tentu pengawasan dan antisapsi akan terus ditingkatkan,” tegasnya.

(Ophik)

0Shares