Oleh : H.Akmal Famajra, Banuhampu
“ Mr.Assaat menjadi remaja yang beruntung di zamannya, karena bisa menjalani dunia pendidikan di sekolah elit pribumi. Walau dihadapkan pada beragam tantangan, diskriminasi dan beragam tindakan pengabaian, namun sosok ini, menjadi segala ragam tantangan sebagai bagian dari upayanya membangun jatidiri sebagai bagian dari warga negara yang merdeka, sesuai cita-citanya,”. Berikut lanjutan ulasannya :
Pendidikan Mr. Assaat Datuak Mudo
Pendidikan Awal
Laki-laki ini terlahir sebagai remaja yang sangat beruntung di zamannya. Setidaknya, ia mencicipi sekolah elit pribumi sejak belajar dasar hingga perguruan tinggi.? Namun, nyatanya dia kemudian ikut serta dalam pergerakan nasional.
Selain pelajaran agama di surau, Assaat mendapat kesempatan menempuh pelajaran formal, sesuatu yang masih langka bagi anak-anak pada masa itu. Ia pertama kali masuk sekolah rakyat (Volkschool) di daerahnya. Dengan kecerdasan dan ketekunannya, Assaat mampu menyerap pelajaran dengan baik. Guru-gurunya mengenal Assaat sebagai murid yang tekun, rajin membaca, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Tidak hanya cerdas, Assaat juga dikenal memiliki sifat kepemimpinan sejak kecil. Dalam permainan elajar teman-teman sebaya, ia sering dipercaya menjadi pemimpin kelompok. Sifat jujur, disiplin, dan tegas membuatnya dihormati meski masih anak-anak. Hal ini menjadi cikal bakal karakter kepemimpinan yang kelak akan mengantarkannya menjadi tokoh nasional.

Pendidikan Dasar di Sumatera Barat
Mr. Assaat Datuak Mudo dikenal sebagai salah satu tokoh bangsa yang cerdas, berwawasan luas, dan memiliki integritas tinggi. pelajaran tentu tidak muncul begitu saja, melainkan ditempa melalui pelajaran yang ia tempuh sejak kecil hingga dewasa. Masa pendidikannya merupakan salah satu fase penting dalam perjalanan hidupnya, karena di situlah terbentuk cara berpikir kritis, sikap disiplin, dan kesadaran kebangsaan yang kelak menjadi dasar perjuangannya di kancah politik nasional.
Sebagai anak Minangkabau yang lahir pada 1904 di Banuhampu, Agam, Assaat memperoleh pelajaran pertamanya di sekolah rakyat (Volkschool). Pada masa itu, hanya pelajar kecil anak pribumi yang dapat menikmati pelajaran formal, karena sekolah lebih banyak diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan kaum priyayi. Namun, kecerdasan dan ketekunan Assaat membuat orang tuanya bertekad menyekolahkannya lebih jauh.
Setelah menamatkan sekolah di Volkschool, ia kemudian masuk ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Bukittinggi, sebuah sekolah dasar berbahasa Belanda yang hanya bisa dimasuki oleh anak-anak pribumi terpilih. Di HIS, Assaat belajar membaca, menulis, berhitung, belajar, serta Bahasa Belanda. Bahasa Belanda menjadi kunci penting untuk membuka pengetahuan modern, sekaligus membuatnya lebih mudah melanjutkan pelajaran ke jenjang yang lebih tinggi.
Sekolah Menengah di Yogyakarta
Setelah menyelesaikan HIS, Assaat melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), semacam sekolah menengah pertama berbahasa Belanda. Ia bersekolah di Yogyakarta, salah satu kota pelajaran terbesar di Hindia Belanda. Lingkungan baru ini membuka wawasannya lebih luas, karena ia mulai berinteraksi dengan siswa dari berbagai daerah di Nusantara.
Setelah MULO, Assaat menempuh pelajaran di Algemene Middelbare School (AMS), sekolah menengah atas yang setara dengan SMA. AMS menekankan pelajaran sastra, ilmu sosial, dan filsafat. Di sinilah kecerdasan intelektual Assaat semakin terasah. Ia dikenal sebagai siswa yang rajin membaca, berpikir kritis, dan mulai menaruh perhatian pada kondisi bangsanya yang masih dijajah.
Yogyakarta yang saat itu menjadi pusat pergerakan nasional juga memberi pengaruh besar pada pembentukan kesadaran politik Assaat muda. Di luar sekolah, ia bersentuhan dengan diskusi-diskusi pelajar, pergerakan mahasiswa, dan wacana tentang kebangkitan bangsa.
Pendidikan Tinggi di Jakarta
Setelah lulus dari AMS, Assaat diterima di Rechts Hogeschool (RHS) atau Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta (Batavia). RHS didirikan pada 1924 untuk mencetak tenaga hukum Hindia Belanda, dan hanya bisa dimasuki oleh putra-putri terbaik dari seluruh Nusantara. Pendidikan hukum di RHS sangat ketat, dengan kurikulum yang meliputi hukum perdata, hukum pidana, hukum internasional, filsafat hukum, dan administrasi negara.
Di RHS, Assaat belajar langsung dari dosen-dosen Belanda yang terkenal disiplin dan keras. elajaran itu tidak menyurutkan semangatnya. Ia justru semakin tertantang untuk menguasai ilmu hukum dan memahami cara berpikir Barat. Pengetahuannya tentang hukum menjadi modal penting dalam perjuangannya kelak, karena ia mampu berdiplomasi dengan pelajan hukum yang dimengerti bangsa penjajah.
Selain belajar hukum, Assaat juga aktif mengikuti kegiatan mahasiswa. Di lingkungan RHS, ia sering berdiskusi dengan rekan-rekan seperjuangan yang kelak juga menjadi tokoh bangsa, seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Iwa Kusumasumantri. Pertemuan dengan tokoh-tokoh itu semakin menumbuhkan kesadaran nasionalismenya.
Pada masa mengikuti Pendidikan di RHS ini, Assaat merasakan diperlakukan tidak adil oleh dosen-dosen Belanda.Ia tidak pernah mendapatkan kelulusan. Assaat selalu dinayatakan tidak lulus mengikuti ujian akhir.
Menurut pengakuan Assaat pada anak-anaknya seperti dituturkan oleh Lucy, kelahiran 1942 dalam wawancara dengan penulis, bahwa ayahnya diperlakuan tidak adil Ketika belajar di RHS. “Akibat perlakuan tidak adil dari dosen-dosen Belanda, maka ayah melanjutkan Pendidikan ke Laiden, Belanda,” tutur Lucy.
Pada elaja 1930-an, Batavia (kini Jakarta) menjadi pusat pelajaran tinggi di Hindia Belanda. Di sanalah berdiri sekolah tinggi bergengsi belajar Rechts Hogeschool, tempat para calon ahli hukum dididik berdasarkan belajar hukum Eropa yang ketat. Di antara segelintir anak bumiputra yang berhasil menembus belajar itu, terdapat seorang mahasiswa muda dari Minangkabau Mr. Assaat, kelak dikenal sebagai Presiden Republik Indonesia Sementara.
Assaat, yang berasal dari keluarga sederhana di Sumatera Barat, datang ke Batavia dengan semangat belajar yang tinggi dan tekad untuk membuktikan bahwa anak pribumi mampu bersaing dengan kalangan Eropa. Namun, idealisme dan kecerdasannya segera berhadapan dengan kenyataan pahit: diskriminasi rasial yang masih mengakar kuat di lingkungan pelajar.
Di ruang-ruang kuliah Rechts Hogeschool, perlakuan berbeda begitu terasa. Mahasiswa Belanda dan Indo (keturunan campuran) diperlakukan pelajaran, sementara mahasiswa bumiputra seperti Assaat sering kali dianggap warga kelas dua. Dalam beberapa catatan sezamannya, dosen-dosen Belanda tidak jarang meremehkan kemampuan mahasiswa pribumi, menganggap mereka hanya “peniru” yang tidak memiliki daya analisis hukum setara dengan bangsa Eropa.
Assaat pernah menceritakan bahwa ia tidak jarang diperlakukan dengan nada merendahkan mengajukan pendapat dalam perkuliahan. Suatu masa, dalam sebuah diskusi tentang hukum dan kedudukan pribumi, seorang pelajar Belanda menolak pandangannya yang menentang ketidakadilan hukum terhadap rakyat Hindia. Assaat menyatakan bahwa “tidak ada keadilan sejati dalam hukum yang membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulit,” sebuah pernyataan yang saat itu dianggap terlalu berani.
Perlakuan tidak adil itu juga muncul dalam bentuk penilaian akademik yang berat sebelah. Nilainya kerap ditahan atau diturunkan tanpa alasan yang jelas, sementara mahasiswa Belanda dengan kemampuan serupa mendapatkan pujian. Meski demikian, Assaat tidak pernah tunduk. Ia tetap rajin membaca, berdiskusi, dan menulis pandangan hukum yang membela bangsanya. Di luar kampus, ia mulai aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan organisasi-organisasi mahasiswa yang menentang diskriminasi elajara.
Kesadaran sosial dan politiknya semakin tajam. Ia menyadari bahwa pelajaran hukum yang ia pelajari — hukum Romawi dan Belanda — dibangun untuk melayani kekuasaan penjajah, bukan untuk melindungi rakyat Indonesia. Dari pengalaman pahit itulah lahir keyakinan dalam dirinya bahwa kemerdekaan tidak akan pernah diberikan oleh hukum, tetapi harus diperjuangkan sendiri oleh bangsa Indonesia.
Pengalaman diskriminatif selama di Rechts Hogeschool menjadi pendewasaan politik bagi Assaat. Ia belajar bahwa keadilan bukan sekadar teori, melainkan perjuangan nyata. Ketidakadilan yang ia rasakan sebagai mahasiswa hukum membentuk karakter keras dan tegas yang kelak tampak gelaja ia memimpin Republik Indonesia Sementara (1949–1950). Ia memahami makna sejati dari keadilan — bukan keadilan yang ditulis dalam buku hukum Belanda, tetapi keadilan yang lahir dari elaja rakyat tertindas.
Ketika kelak ia menjadi seorang tokoh besar, Assaat sering menyinggung masa-masa studinya di Batavia itu sebagai titik balik dalam hidupnya. Ia pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya bahwa perlakuan tidak adil dari Belanda justru memberinya pelajaran paling berharga: bagaimana rasanya menjadi korban ketidakadilan, dan bagaimana seharusnya seorang pemimpin memperjuangkan hak bangsanya.- ( Bersambung )