Oleh: PARIADI
E-mail: pariadidesip@yahoo.com
Prinsip-prinsip Pembelajaran Penanaman Jiwa Kewirausahaan di INS Kayutanam.
Menurut Engku M. Sjafe’i (1953:7) dalam pendidikan dan pengajaran adalah upaya untuk membawa sianak kepada kesempurnaan lahir dan batin.
Oleh karena itu pendidikan tidak cukup untuk mengisi otak dengan ilmu pengetahuan saja, melainkan tangan harus dibekali dengan keterampilan dan hati dengan akhlak etika dan estetika. Inilah yang dikenal dengan sinergi pendidikan tiga bidang yakni otak, tangan dan hati dalam sistem pendidikan INS Kayutanam.
Pembelajaran aktif kreatif di INS Kayutanam berbasis pada filsafat “Alam Takambang Jadi Guru”. Bahwa sebagai bangsa yang beragama seharusnya kita mengakui alam sebagai Sunatullah yang wajib dipedomani dan belajar dari fenomena dan dinamika kehidupan serta kejadian yang dapat diambil pelajaran dan hikmah.
Dalam konsep pendidikan Engku M. Sjafe’i ditegaskan bahwa pendidikan aktif kreatif dimaksudkan untuk mencapai perkembangan dan harmonisasi tiga komponen vital manusia yaitu otak, jiwa dan tangan.
Implementasinya pembelajaran aktif kreatif dalam penanaman jiwa entrepreneurship di INS Kayutanam dilaksanakan dengan menerapkan prinsip-prinsip berikut ini: 1) Mengedepankan aktif positif (berasal dari dalam diri sendiri) dan dapat juga aktif negatif (keaktifan atas dasar stimulus dari luar diri), 2) Pembelajaran berdasarkan bakat, 3) Menyesuaikan dengan tipe belajar anak, 4) Penerapan pembinaan dengan konsep Ruang Pendidik, 5) Penerapan Prinsip Percaya pada diri sendiri bersebelah pada Tuhan, 6) Kreatif dan kemampuan berimprovisasi.
Sistem pendukung yaitu hal-hal yang akan membantu tercapainya tujuan dengan menerapkan model tertentu. Jika kita menginginkan peserta didik untuk bekerja mandiri maka diperlukan adalah kejelasan tugas, kemudian para peserta dibiarkan untuk bersksplorasi mencari informasi-informasi dari sumber yang ada misalnya perpustakaan internet dan sumber-sumber belajar yang lain, dan membiarkan mereka bekerja mandiri dan memupuk percaya diri dan kreativitas.

Sistem Pendukung yang tidak kalah pentingnya dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship di INS Kayutanam adalah ketresediaan workshop dan sanggar kegiatan sebagai sarana pemberdayaan potensi sesuai bakat dan minat.
Selain itu para siswa difasilitasi untuk melakukan pameran dan pertunjukan minat bakat dan bazar hasil kreativitas baik dalam kampus maupun diluar kampus. Keberadaan Talenta Mart merupakan sarana pendukung dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship siswa di kampus.
Dampak instruksional, dimaksudkan dampak-dampak yang langsung dari kegiatan pembelajaran sebagaimana yang diniatkan pada waktu merancang program. Sedangkan nurturent effect (dampak pengiring) merupakan hasil sampingan dari kegiatan pembelajaran.
Misalnya siswa belajar mengeneralisasikan suatu prinsip setelah mengadakan pemgamatan yang intensif terhadap sejumlah contoh-contoh baik dari alam sekitar maupun dari hubungan antar manusia didalam masyarakat.
Terbiasa memecahkan masalah sendiri, tidak mengeluh, tidak cepat merasa puas, selalu bekerja keras dan suka pada tantangan. Selain itu para siswa dapat pula mengurus diri sendiri di asrama dan punya kepedulian sosial dan dapat bergaul dengan lues dengan teman teman di kampus. Pengaruh langsungnya terbiasa dengan pembelajaran aktif kreatif dan tidak mengeluh terutama dalam berkarya dibengkel keterampilan dan sanggar seni.
Di samping itu ada pengaruh yang tidak langsung yang dinamakan nurturant effect seperti bahwa ia lebih teliti melakukan pengamatan, ia dapat memperoleh keterampilan bekerja sama dengan kawan-kawannya, dan memiliki kebiasaan untuk bekerja keras, suka pada tantangan dan tidak mengeluh serta tidak cepat puas terhadap satu capaian.
(Bersambung)
