Oleh: PARIADI
E-mail: pariadidesip@yahoo.com
“Engkau jadilah engkau, jangan minta buah mangga pada pohon rambutan, tapi jadikan setiap pohon berbuah manis” demikian pernyataan Engku M. Sjafe’i tokoh pendiri INS Kayutanam 31 Oktober 1926 sebagai filosofi pendidikan INS.
Pendidikan adalah sarana untuk memberdayakan potensi setiap individu siswa agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai minat dan bakat menjadi aktif, keatif, percaya diri, tidak mudah mengeluh dan suka pada tantangan melalui sinergi pendidikan tiga bidang yaitu otak, tangan dan hati yang berorientasi proses.
Artikel ini adalah hasil Penelitian dan Pengembangan (R&D) Model ADDIE ( Analysis, Design, Depelopment, Implementation, Evaluation) sebagaimana yang dikemukakan Reiser dan Mollenda (1990) yang dilatarbelakangi oleh masalah terjadinya pergeseran nilai kewirausahaan (entrepreneurship) dalam pembelajaran INS Kayutanam sebagai ruh ajaran Engku M. Sjafei terutama dalam memenuhi tuntutan perubahan zaman yang kekinian yakni Revolusi Industri 4.0 yang sangat sesuai dengan tujuan INS yakni kemandirian dan inovasi, bukan jadi PNS. Artikel ini akan memaparkan tentang bagaimana model pembelajaran penanaman jiwa entrepreneurship dan hasil uji validitas, praktikalitas dan efektifitas model yang dikembangkan.
Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah momentum dan tantangan nyata yang harus dihadapi, dimana teknologi berkembang sangat pesat dibarengi dengan terjadi trend di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber.
Beberapa tantangangan yang terus berubah antara lain otomatisasi digital, globalisasi/internasional dan kolaborasi/flexibility hal ini menyebabkan perubahan cara bekerja generasi muda kita karena pada era ini dan beberapa segmen pekerjaan akan digantikan oleh robot.
Beberapa perubahan besar akan terjadi di era revolusi 4.0 antara lain 35% core skills akan hilang tahun 2025, 45% siswa kita akan bekerja pada bidang yang belum ada sekarang dan 14,2% tenaga kerja akan berimigrasi di ASEAN. Diperkirakan tahun 2030 setiap jenis pekerjaan akan mengalami perubahan yang signifikan dimana pekerjaan rutin dan manual akan berfokus pada manusia dan problem solving, strategis dan kreativitas serta inovasi yang tiada henti yang dimiliki oleh seorang wiarausahaan (entrepreneurship).

Hanya mereka yang memilki kecakapan kemampuan abad 21 yang dapat berkompetisi dan memenangkan persaingan yang ketat ini. Kecakapan yang harus dimilki diabad 21 ini antara lain adalah: Berjiwa Entrepreneurship tangguh sebagai global citizen, Memiliki kapabilitas siap kerja pada bidang keahliannya, Memiliki kemampuan berpikir, kritis, kreatif, inovatif dan pemecahan masalah, Memiliki cara kerja komunikatif dan kerjasama (kolaboratif), Mampu melakukan pengumpulan data dan menggunakannya, Mampu menggunakan perangkat teknologi dan media dan Integritas dan disiplin dalam melaksanakan tugas Intinya adalah mereka yang memilki inovasi dan kreativitas dan kemapuan untuk melihat peluang dan mengatisipasi dan berani mengambil resiko yaitu mereka yang memilki jiwa entrepreneurship.
Hal seperti inilah yang seharusnya dihasilkan dalam pembelajaran INS Kayutanam saat ini. Faktanya hari ini terjadi sejumlah fenomena yang menunjukkan ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan dimana terjadinya pergeseran nilai-nilai kewirausahaan dalam pembelajaran INS Kayutanam yang semakin hari semakin memudar dan cenderung seperti sekolah umum biasa. Padahal nilai-nilai kewirausahaan seperti aktif, kreatif dan inovatif serta percaya diri merupakan identitas dan ruh dalam sistem Pendidikan INS Kayutanam.
Dalam kontek Indonesia, menurut Sularto (2010), dengan kecilnya jumlah entrepreneur, maka kewirausahaan adalah menjadi keharusan dan merupakan kunci kemajuan bangsa di masa depan. Indonesia butuh orang-orang kreatif, inovatif dan mampu mengambil resiko secara cerdas.
Oleh karena itu dibutuh pendidikan dan pembelajaran penanaman jiwa entrepreneurship yang efektif. Bergesernya budaya kemadirian, dimana biasanya keperluan akan kebutuhan internal sekolah seperti kursi, almari, meja siswa di asrama, jemuran kain dan lain-lain, itu biasanya diproduksi sendiri oleh siswa dan guru di bengkel-bengkel kerja melalui praktik keterampilan INS Kayutanam, namun hari ini cenderung dibeli.
Bergesernya kemandirian ini adalah ancaman nyata pendidikan yang akan membuat jiwa kewirausahaan generasi mendatang menjadi lemah dan mereka tidak dapat bersaing di era Revolusi Industri 4.0. Inilah alasan mengapa peneliti perlu melakukan penelitian dan pengembangan di INS Kayutanam agar nilai ruh ajaran M. Sjafe’i tidak tercabut dari akarnya.
(Bersambung)
