Makna Festival Rakik-Rakik Maninjau: Semangat Gotong Royong Anak Nagari

Maninjau, KABA12 — Festival Rakik-Rakik merupakan sebuah tradisi unik yang ada di Kabupaten Agam yang digagas oleh anak Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya. Festival tahunan ini digelar setiap malam pertama lebaran Idul Fitri yang bertepatan pada 1 Syawal.

Wakil Bupati Agam Irwan Fikri menyebut, bahwa festival yang sudah berusia ratusan tahun ini memiliki makna tersendiri dalam penyelanggaraannya yakni semangat gotong royong oleh anak nagari setempat. Apalagi untuk pembuatan sebuah rakik-rakik membutuhkan dana hingga belasan juta rupiah.

“Saya melihat dari sisi luar pariwisata, bahwa acara ini memiliki nilai dan makna yang sangat besar yaitu semangat gotong royong. Dimana untuk pembuatan sebuah rakik-rakik membutuhkan biaya yang cukup besar bahkan mencapai angka Rp 15-20 juta untuk satu rakik-rakik,” kata Irwan Fikri kepada wartawan, saat menyaksikan Festival Rakik-Rakik di Maninjau, Minggu (23/4) dinihari.

Dikatakan, setiap jorong yang ada di Nagari Maninjau wajib mengirimkan utusan rakik-rakik untuk ditampilkan pada festival Rakik-rakik. Pembuatan rakik-rakik itu didekorasi sekreatif mungkin dengan berbagai bentuk ornamen untuk menarik perhatian masyarakat

“Inilah bentuk semangat gotong royong yang diperlihatkan anak nagari sejak awal mula pembuatan rakik-rakik, mulai dari mencari bambu ke hutan, menghimpun dana, sampai mendekorasi rakik-rakik dengan berbagai ornamen,” ungkapnya

Wabup berharap semangat gotong royong yang tumbuh di Maninjau perlu dijaga dengan baik dan dilestarikan supaya tetap konsisten untuk melaksanakan festival rakik -rakik setiap tahunnya.

“Kita berharap tradisi ini harus senantiasa dijaga dan dilestarikan serta diwariskan, karena memiliki nilai dan makna yang terkandung didalamnya,” katanya.

Disamping itu, Pemerintah Kabupaten Agam turut memberikan dukungan dalam penyelenggaraan event rakik-rakik di Danau Maninjau. Tahun ini, pemkab mengganggarkan dana untuk hadiah acara rakik-rakik yang digelar di Nagari Maninjau dan Nagari Tanjung Sani.

Menurut Irwan Fikri, jika event rakik-rakik digelar bergiliran dan diikuti oleh seluruh nagari di Salingka Danau Maninjau maka akan menambah daya tarik dan popularitasnya.

“Misalnya seluruh nagari di Salingka Danau Maninjau mengirimkan utusan rakik-rakik pada sebuah acara festival yang lokasinya digelar secara bergiliran. Namun kita tentu perlu lakukan kajian-kajian pengembangannya untuk mendorong kegiatan ini bisa terpublikasi dengan baik dan maksimal demi kepentingan sektor pariwisata dan lainnya,” jelasnya.

Walinagari Maninjau, Alfian menambahkan, event Rakik-rakik merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahunnya saat momen lebaran dengan tujuan menghibur masyarakat dan perantau yang pulang ke kampung halaman,

Ia menjelaskan, rakik-rakik adalah sebuah rakit (kendaraan apung) terbuat dari bambu yang dihiasi dengan lampu togok dan LED warna warni dan dirangkai menyerupai ornamen bangunan seperti rumah gadang, masjid, jam gadang dan ornamen lain.

“Event rakik-rakik ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Maninjau yang rutin dilaksanakan saat lebaran Idul Fitri,” ucapnya.

(Bryan)

0Shares