Kaba Terkini

“Makan Bajamba“, Tradisi Khas Silaturrahmi Rang Minang

Oleh : Nadya Tahara Fitri –Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional-FISIPOL UNAND

Adat dan budaya Minangkabau menjadi salah satu potensi luar biasa bahkan menjadi keunggulan yang mengusung kebanggaan masyarakat.

Tidak hanya di Sumatera Barat, tapi juga di seantero Nusantara bahkan di dunia, keunikan dan kekhasan adat dan budaya Minangkabau menjadi salah satu kebanggaan bagi masyarakat Minang khususnya, dimanapun berada.

Kekuatan Minangkabau, yang bersendikan “ adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitab Allah (Al-Quran), menjadi pondasi penting bagi masyarakat dalam menjalankan berbagai aktivitas harian, yang selalu berpedoman pada adat dan agama yang dianut.

Apalagi, dengan segala keragaman budaya, kekuatan adat alam Minangkabau dengan filosofi “ indak lapuak dek ujan, ndak lakang dek paneh “ (tidak akan lapuk oleh terpaan hujan, dan tidak akan rengkah oleh panas matahari), yang menggambarkan tatanan adat dan budaya Minangkabau menjadi panduan penting dalam beragam aktivitas yang dijalankan masyarakat, yang seluruhnya bermuara pada sendi-sendi silaturrahmi dalam bermasyarakat.

Salah satu kegiatan adat dan budaya yang hingga kini tetap dipertahankan, bahkan menjadi pra-syarat penting dalam beragam kegiatan dalam bermasyarakat adalah “makan bajamba”.

Di Minangkabau tradisi “ Makan Bajamba”, adalah suatu bentuk nyata akan tradisi atau adat dari Sumatera Barat / Minangkabau itu sendiri.

Makan Bajamba ini dikenal sebagai Tradisi Makan Bersama ini telah ada sejak abad ke-7 Masehi, dan pertama kali dilakukan di daerah Koto Gadang, di Luhak Agam, yang sekarang kita kenal dengan Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Makna Jamba merupakan Dulang. Dulang ini dibuat dari anyaman daun, sebagai penutup talam (alas tempat makanan), yang biasa juga disebut tuduang saji (payung sajian), yang dalam prosesi adatnya akan ditutup dengan ornament khusus, penuh pernak-pernik khas rang Minang.

Dalam tradisi adat Minang, jamba akan menjadi sajian makanan, untuk prosesi makan bersama di rumah gadang atau balairung adat, yang dibawa oleh para bundo kanduang (kaum ibu) yang dijujung di atas kepala.

Jamba yang ditutup cadar saji yang dibuat dari anyaman daun enau, serta diatasnya dilampiri dengan dalamak (kain bersulam benang emas). Bundo kanduang yang membawa jamba ke lokasi kegiatan adat dan prosesi tertentu, bahkan dengan piawai bisa meletakkan jamba di kepala sambil bergoyang, menggiring iringan bunyi tambua tansa.

Dalam ketentuannya, jamba dan sajian isinya dan tata letak isi dalam jamba, sesuai dengan ketentuan kaum (suku), karena masing-masing suku (kaum) mempunyai aturan dan tradisi yang berbeda.

Penulis sengaja menyarikan, nukilan tentang jamba, khusus dari kaum suku Malayu, yang juga mempunyai ketentuan dan aturan tersendiri, yang sebetulnya tidak jauh berbeda dengan ketentuan atau tradisi suku-suku lain di Minangkabau.

Bajamba itu sendiri, digunakan ketika adanya kegiatan adat, diantaranya  yaitu Bajamba Datuak, Bajamba Penganten dan Bajamba Silaturrahmi.

Pada Bajamba Datuak isi dari jamba itu terdiri dari makanan berat seperti ayam singgang, gulai ayam, rendang, perkedel, ayam kecap, nasi putih.

Pada Bajamba Penganten isinya berbagai macam kue-kue, kue yang bertekstur keras diletakkan paling bawah lalu menyusul dengan tekstur menengah dan hingga kue yang lembut contohnya seperti “kalamai” (semacam dodol), aluo, kue sapik (kue semprong lipat), kue bolu, kue pinyaram (cucur), puluik manih (kue wajik) dan kue-kue lainnya.

Kemudian Bajamba Silaturrahmi, yang biasa disiapkan untuk kegiatan silaturrahmi kaum, acara khusus daerah dan kegiatan lainnya, yang isinya berupa nasi putih, lauk dan jenis makanan khas lainnya.

Setiap Jamba ini memiliki jumlah yaitu 5,7,9,11, semakin besar jumlah jambanya semakin besar pula feedback yang diberikan, yang membawa jamba jika ada acara adat yaitu istri datuak, Istri mamak, istri kepala-kepala suku dan semua wanita yang sudah menikah yang memiliki suku Melayu, lalu jika Bajamba penganten yang membawa jamba yaitu pihak ibu dari wanita yang akan menikah

Alas Jamba itu yang dinamakan “talam atau tutuik jamba” lalu pada lapisan bawah untuk sebagai alas untuk makanan-makanan tersebut ialah kain biasa yang luas dapat menutup makanan yang ada, lalu lingkaran yang ada pada jamba tersebut dapat dibuat dari kertas karton ataupun daun pisang.

Beragam ‘aturan’ dalam Bajamba itu, sudah menjadi tradisi dan kebiasaan dalam masyarakat Minang, termasuk kaum suku Melayu, yang dengan sendiri, berbagai aturan yang sudah berlaku sejak lama itu, dengan sendirinya akan dipenuhi oleh para kaum Bundo Kanduang yang bertugas menyiapkan perangkat konsumsi yang sifatnya wajib dalam setiap prosesi acara adat dan budaya, yang hingga kini masih sangat kental dilaksanakan masyarakat yang diawasi khusus oleh mamak dan pangulu kaum.(*)

To Top