Lubukbasung,kaba12 — BPBD Agam bekerjasama dengan PT.Mahatma Jaya yang difasilitasi Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI) gelar workshop penyusunan rencana kontegensi (renkon) penanganan bencana untuk pengurangan risiko kebencanaan terbaru di kabupaten Agam.
Renkon penanganan bencana menjadi salah satu pilar penting dalam upaya penanganan dan pengurangan risiko bencana mengingat kabupaten Agam menjadi salah satu daerah dengan potensi kebencanaan yang cukup tinggi di Indonesia.
Dalam workshop yang digelar Kamis kemarin di Hotel Sakura Syariah yang dibuka Bupati Agam diwakili Asisten I Sekab.Agam Rahman didampingi Kepala BPBD Agam Bambang Warsito, menghadirkan stakeholder terkait dalam masalah kebencanaan termasuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan dunia usaha, menghadirkan beberapa pemateri termasuk dari KOGAMI .

Menurut Bambang Warsito, sesuai amanat UU Nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, yang mengurus masalah kebencanaan perlu melibatkan semua pihak baik dari pemerintah, masyarakat, maupun bidang usaha.
” BPBD perlu menyiapkan rencana kontigensi yang merupakan komitmen bersama dalam penanggulangan bencana, karena sangat dibutuhkan untuk mendapatkan dukungan dan bantuan logistik – peralatan lainnya dari BNPB dan pemerintah pusat, “sebut Bambang.
Untuk penyusunan dokumen renkon terbaru di Kabupaten Agam tersebut, PT.Mahatma Jaya berperan sebagai fasilitator, bekerjasama dengan KOGAMI.

Sementara menurut Tommy Susanto, dari KOGAMI menjelaskan, satu renkon hanya bisa digunakan untuk satu ancaman bencana karena setiap bencana memiliki karakterisktik berbeda sehingga dibutuhkan penentuan prioritas renkon yang disesuaikan dengan ketersedian APBD, menggunakan matriks analisis risiko bencana.
“Renkon akan dijadikan rencana operasi saat terjadi bencana, untuk mencegah keterlambatan respon bencana, apabila renkon ini benar dalam penyusunannya,”sebutnya.
Dokumen kontegensi bencana terbaru khususnya bencana tanah longsor dan tsunami di kabupaten Agam menjadi salah satu prioritas, mengingat potensi kebencanaan itu relative tinggi bahkan kerap terjadi, khususnya ancaman tanah di beberapa wilayah kecamatan.
-HARMEN-
