Kasus Bullying SMPN 6 Lubukbasung,DPRD Agam Ungkap Prihatin

Lubukbasung,kaba12 — Kalangan DPRD Agam ungkap prihatin, menyusul terjadinya kasus bullying ( perundungan ) yang terjadi Selasa, (24/10) lalu, melibatkan para oknum siswa SMPN 6 Lubukbasung, bahkan dengan korban sesama siswa sekolah tersebut.

Kasus perundungan yang menjadi salah satu fokus perhatian pemerintah selama ini, mengingat dampak yang dialami terhadap korban sangat luar biasa, tidak hanya dalam kaitan mental tapi juga resiko terhadap lingkungan. Bahkan,kalangan DPRD Agam berharap, kasus itu bisa diusut tuntas dengan memberi efek jera agar hal serupa tidak terulang karena akan sangat merugikan dunia pendidikan.

Ungkapan prihatin akan terjadinya kasus perundungan itu disebutkan Ketua DPRD Agam Dr.Novi Irwan, M.Ater Dt.Manambun, Sekretaris Komisi I, Epi Suardi, Wakil Ketua Komisi III , Nesi Harmita, ST anggota Komisi IV, Joni Putra Dt.Bintaro Hitam, ketua fraksi Golkar DPRD Agam yang didampingi Hasneril, Pranata Humas Sekretariat DPRD Agam.

Disebutkan Novi Irwan, pihaknya sangat kaget dan terkejut dengan mengapungnya kasus itu media sosial, tidak hanya aksi perundungan yang dilakukan oknum siswa SMPN 6 Lubukbasung itu, tapi kata-kata yang sopan yang diucapkan dan terekam di video itu, sangat menyanyat hati, bahkan melukai nuraninya selaku seorang pendidik.

Novi Irwan mengaku, hal itu menjadi sebuah pil pahit yang harus diselesaikan dengan baik dan tuntas. Disebutkan, jalan damai memang harus ditempuh sebagai bagian dari silaturrahmi, namun pemberian sangsi pembinaan untuk efek jera menjadi hal penting yang harus dipertimbangkan semua pihak terkait.

Hal serupa disebutkan M.Ater Dt.Manambun yang mengaku kaget dengan kejadian tersebut, “ hal ini mengiris jantung. Luar biasanya anak-anak saat ini, “ungkapnya.

Tokoh ninik mamak itu mengaku sepekat jika hal itu diusut dan diselesaikan dengan tuntas, namun harus tetap mengedepankan pembinaan dan evaluasi perilaku terhadap anak-anak yang masih dibawah umur tersebut, “hal ini mesti menjadi bahan kajian kita bersama, kok bisa seperti itu, “ungkapnya kecewa.

Kekecewaan serupa disebut Epi Suardi, Joni Putra Dt.Bintaro Hitam dan Nesi Harmita yang berharap, kasus seperti itu tak terulang, dan harus dicarikan solusi yang paling tetap, selain dengan pembinaan, pengawasan ketat dan peran semua unsur terkait termasuk orangtua dalam mengawasi perilaku anak.

Kasus perundungan yang menggegerkan banyak pihak itu, setelah sebelumnya ditempuh upaya mediasi pasca kejadian Selasa, (24/10) lalu, namun tidak membuahkan hasil, yang saat ini berlanjut dengan proses pemeriksaan secara hukum di Polres Agam.

-HARMEN-

0Shares