Lubukbasung,kaba12 — Kisah luar biasa perjalanan hidup Ana Buro Tarigan, (55), warga asal Sumatera Barat yang bertekad bulat menjadi muallaf membuat bulu remang kita berdiri. Betapa tidak, tekadnya untuk memeluk agama Islam, membuatnya harus menghadang beragam tantangan termasuk harus berpisah dari keluarganya.
Adalah Ana Buro Tarigan, yang kini tinggal bersama suaminya Zul asal Palupuah, Kabupaten Agam , di kawasan Sungai Jariang, Nagari Persiapan Sungai Jariang Lubukbasung, di sebuah pondok kebun milik orang, yang menjadi tempat hari-harinya menjalani masa tua.
Muallaf yang mendapat perhatian khusus dari warga Sungai Jariang itu, sehari-harinya bekerja sebagai buruh kebun. Dengan kondisi ekonomi pas-pasan, pasangan ini bertekad mendayung biduk kehidupan dalam Islam, walau tak jarang “puasa”( walau tidak dalam bulan Ramadhan) , namun kegigihannya memeluk Islam sangat luar biasa, dan sebelumnya agak riskan untuk diceritakan secara detail.

Informasi tokoh ninik mamak Lubukbasung M.Ater Dt.Manambun, Ketua RK Sungai Jariang Zulfian, bersama tokoh muda Sungai Jariang Arief, Ana Buro Tarigan sudah cukup lama bermukim di wilayah itu, sejak menyatakan diri menjadi muallaf, bahkan pihaknya ikut membantu prosesi warga asal Sumatera Utara itu masuk agama Islam.
Bahkan, saat Ana Buro Tariga mengalami sakit yang cukup serius, pihaknya turun tangan membantu, termasuk dalam proses administrasi kependudukan, “kisahnya cukup luar biasa. Saat sakit, bahkan dia berkata lantang, siap meninggal dalam agama Islam. Hal ini membuat banyak orang tersentuh, “ungkap Zulfian.

Mendapat informasi itu, Ricky Eka Putra Camat Lubukbasung bersama berbagai pihak yang peduli di Lubukbasung, sepakat menggalang kepedulian untuk membantu kondisi Anak Buro Tarigan yang tinggal bersama suaminya di pondok rewot milik orang lain yang berada dalam perkebunan kelapa sawit itu.
Bahkan, Jumat, (29/3), Camat Lubukbasung bersama M.Ater Dt.Manambun, Zulfian, Arief dan kaba12, sengaja mendatangi pondok tempat tinggal Ana Buro Tarigan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Untuk menemui muallaf ini, pun agak unik, pasalnya tim harus 3 kalo bolak-balik ke lokasi, karena pondok yang bersangkutan terkunci, karena sedang keluar.

Baru, usai shalat Jumat, tim kecil ini bisa menemui secara langsung muallaf dengan kondisinya terlihat letih dan sepuh, “Insyallah, puasa saya penuh pak. Saya bertekad menjalani ibadah dengan baik sesuai apa yang sudah saya pelajari, “ungkap Ana Boru kepada rombongan saat menemui.
Bahkan, terlihat sang ibu yang sudah terpisah dari keluarganya karena tidak lagi diakui sebagai bagian dari keluarga karena memeluk agama Islam itu, menangis harus saat camat Lubukbasung menyerahkan donasi yang dihimpun berupa sembako, mukena, kain sarung, sajadah dan zakat yang dititipkan kepada kaba12.

“ Ini luar biasa, mudah-mudahan apa yang kita salurkan bermanfaat untuk keluarga Ana Boru, semoga beliau selalu sehat dan lancar dalam menjalani ibadah, “ungkap Ricky Eka Putra, yang mengaku tak bisa berbicara banyak, karena tersekat oleh kisah hidup sang muallaf.
(HARMEN)
