Dua Tahun Terakhir Dinkes Agam Catat 37 Penderita HIV-AIDS, 6 Meninggal

Lubukbasung, KABA12.com — Fenomena gunung es merujuk pada kondisi penampakan puncak gunung es di atas permukaan air yang sebenarnya merupakan bagian kecil dari bongkahan gunung es di bawah permukaan air yang tidak tampak dan jauh lebih besar.

Di isu HIV-AIDS, fenomena ini akrab karena mewakili kenyataannya sejak beberapa dekade lalu, yakni hanya sedikit pengidap yang terdeteksi, sementara ada lebih banyak anggota masyarakat yang belum terdeteksi dan mengetahui dirinya mengidap HIV.

Seperti di daerah Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat misalnya. Dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, sejak 2017 hingga akhir 2018 lalu terdapat 37 kasus HIV-AIDS yang ditangani pihaknya.

“Jumlah tersebut hanya penderita yang datang ke pusat pelayanan kesehatan yang ada dibawah Dinkes Agam. Ini belum termasuk data warga Agam yang berobat di sejumlah rumah sakit besar diluar wilayah Agam,” ujar Kadinkes Agam melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Bisman didampingi Kasi P2M, Betlinizar pada KABA12.com, di Lubukbasung, Kamis (07/02).

Menurutnya, kasus terungkapnya pengidap HIV-AIDS merupakan fenomena gunung es, yang hanya terlihat dari luar, padahal sebenarnya di dalamnya masih banyak belum terungkap. Hal ini terjadi, karena HIV-AIDS dianggap penyakit yang berbahaya dan mudah menular, masih banyak orang yang mengucilkan, dan anggapan lain yang salah, sehingga penderita merahasiakan penyakitnya.

Akibat dari anggapan yang salah tersebut, banyak penderita yang tidak mau terbuka dan tidak melapor kepada petugas kesehatan, karena merasa khawatir akan dikucilkan.

Dia menyebutkan, dari 37 penderita tersebut telah meninggal dunia sebanyak enam orang, yang terdiri dari satu laki-laki dan lima perempuan. Dimana, penderita virus itu berasal dari Kecamatan Lubukbasung, Palembayan, Tanjungmutiara, Malalak, Ampeknagari, dan Tanjungraya.

“Virus HIV menyerang daya tahan tubuh, sehingga ketika daya tahan tubuh lemah maka penyakit yang lainpun mudah masuk, jadi yang membunuh penderita adalah penyait yang masuk itu. Virus inipun menularnya bukan seperti cerita yang berkembang ditengah masyarakat, tidak seperti penyakit TB, tapi virus ini menularnya lewat darah, cairan mani dan cairan vagina,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, HIV adalah penyakit yang menjadi momok bagi manusia di seluruh dunia, apalagi hingga kini belum ada obat yang mampu menyembuhkannya. Akan tetapi bisa dibantu dengan terapi ARV (anti-retro-viral), yaitu pengobatan untuk menekan perkembangbiakan virus dalam tubuh serta mengikuti konseling dari petugas kesehatan atau dokter ahli.

“Berbagai macam upaya untuk penanggulangan penyakit ini telah dilakukan pemerintah, baik melalui penyuluhan, sosialisasi, iklan-iklan dan kampanye prootif lainnya. Akan tetapi untuk pemeriksaan HIV kita hanya bisa menawarkan, kita tidak bisa memaksakannya,” jelasnya.

Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Agam pun menghimbau kepada seluruh masyarakat, untuk dapat melakukan Tes HIV agar dapat memastikan apakah terinfeksi HIV atau tidak. Serta menghindari seks bebas, hubungan sejenis, dan setia kepada pasangan masing-masing.

Tidak hanya itu, himbauan yang tegas juga ditujukan pada petugas kesehatan untuk dapat memakai pelindung diri saat bertugas sesuai protab, karena petugas medis objek rawan tertular virus HIV lantaran berurusan dengan jarum suntik dan peralatan medis lainnya yang akan menimbulkan ciprakan darah.

(Jaswit)

0Shares

Comments are closed.