Lubukbasung,kaba12.com — Masyarakat semakin mengeluh dengan situasi ekonomi saat ini, menyusul mukai merangkaknya naiknya harga berbagai bahan pokok, sementara harga jual berbagai komoditi yang diandalkan masyarakat selama ini justru semakin turun.
Kondisi ini, membuat daya beli masyarakat semakin rendah, yang memicu semakin sepi aktivitas pasra di berbagai tempat di kabupaten Agam.
Kondisi ini terlihat di beberapa pasar di kecamatan Lubukbasung, seperti di Pasar Balai Sasala, Pasar Lamo Lubukbasung dan pasar Inpres Padang Baru, Lubukbasung yang beberapa bulan terakhir makin sepi, seakan tanpa ada aktivitas jual beli yang terjadi.
Hal itu, karena makin rendahnya kunjungan masyarakat ke beberapa pasar, karena memang minimnya dana masyarakat yang akan dibelanjakan untuk kebutuhan harian, termasuk masyarakat harus menahan diri, ditengah semakin tingginya harga berbagai jenis kebutuhan pokok, termasuk sikap masyarakat yang menahan diri, karena beberapa program prioritas yang dibutuhkan.
Sepinya kondisi pasar itu, diakui beberapa pedagang di Pasar Inspres Padang Baru, Lubukbasung yang mengakau, sejak beberapa terakhir, daya masyarakat semakin rendah, terutama sejak semakin rendahnya harga kelapa sawit, karena mayoritas masyarakat di wilayah BArat kabupaten Agam mengandalkan kepala sawit sebagai sumber pendapatan.
Belum lagi dampak lonjakan harga barang, yang membuat masyarakatg harus berpikir panjang untuk sekedar berbelaja, ditengah semakin beragamnya kebutuhan masyaraklat, “ daya beli warga semakin rendah, banyak faktornya, kami banyak santainya, bahkan bisa tidur saat hari pasar, “ ungkap Syamsinar, pedagang bahan pokok dengan nada pelan.
Keluhan nada disebutkan Khairul, pedagang sayuran yang mengaku kerap membawa banyak sayurannya pulang karena tidak terjual, akibat sepinya kegiatan jual beli di pasar Inspres Padang Baru, Lubukbasung, “ kondisi sekarang serba sulit, masyarakat semakin sepi yang ke pasar, harus bagaimana, “ ungkapnya dengan mimik lirih.
Informasi yang diperoleh kaba12,.com, kondisi itu sudah berlangsung cukup lama, terutama sejak semakin anjloknya harga jual berbagai komoditi pertanian dan perkebunan yang selama ini jadi andalan masyarakat untuk mendapatkan rupiah, apalagi sejak harga kelapa sawit yang semakin turun.
(ARDI)
