Lubukbasung, KABA12 – Bupati Agam Dr.Andri Warman mengungkapkan bahwa pembangunan kereta gantung atau cable car dari Puncak Lawang, Kecamatan Matur sampai Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya hingga kini belum bisa dilakukan karena masih terkendala dengan persoalan Danau Maninjau yang belum direvitalisasi.
Hal itu disebutkannya pada acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Sirah di Pantai Pasia Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Selasa (27/6).
Ia mengatakan, bahwa program unggulan pemerintah daerah di masa kepemimpinannya yaitu di bidang pariwisata, yang salah satunya adalah rencana pembangunan kereta gantung dari Lawang sampai Maninjau.

Namun hingga kini pembangunan kereta gantung yang akan menjadi ikon pariwisata Sumbar itu belum juga terlaksana.
Dikatakan, bahwa pihaknya sudah mencari dan bertemu dengan sejumlah investor untuk membangun kereta gantung. Namun pembangunannya belum terwujud karena revitalisasi Danau Maninjau sulit dilakukan. Apalagi danau tersebut masuk dalam kategori 5 danau prioritas di Indonesia untuk diselamatkan
dari pencemaran.
Selain itu, dirinya mengaku sudah sering melakukan rapat secara virtual dengan Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan, tetapi eksekusi revitalisasi Danau Maninjau sulit dilakukan.
“Dengan sulitnya eksekusi revitalisasi danau, tentu juga sangat sulit diwujudkan kereta gantung tersebut. Karena itu anggarannya bukan dari pemda tapi dari investor,” kata Andri Warman.
Ia menambahkan, ada 4 investor yang sudah dihubungi dan menyatakan siap untuk membangun kereta gantung. Salah satu investornya adalah Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Namun pembangunannya terkendala karena kondisi danau yang masih tercemar akibat sedimen sisa pakan ikan KJA yang menumpuk di dasar danau.
“Kita sudah capek rapat-rapat, tapi sampai sekarang eksekusinya belum bisa maksimal,” katanya.
“Saya agak sedikit putus asa apa langkah lagi yang harus kita lakukan supaya program unggulan ini terlaksana. Padahal investor sudah siap, tapi karena ada kendala, akhirnya kita cari alternatif lain, yang penting tahun 2023 ini program unggulan bisa diwujudkan,” katanya.
Padahal, lanjutnya, pemerintah pusat sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp239 Miliar untuk revitalisasi Danau Maninjau. Namun belum bisa terealisasi karena eksekusi revitalisasi yang sangat susah.
“Kemungkinan ada pengaruh juga dari pengusaha atau investor ikan keramba, makanya eksekusi susah dilakukan,” jelasnya.
Menurutnya, banyak para pengusaha yang menanamkan modal di Danau Maninjau untuk budidaya ikan keramba. Sehingga menyebabkan jumlah KJA bertambah hingga mencapai di angka 23 ribu petak.
Dengan kondisi itu, volume sedimen di dasar danau yang berasal dari sisa pakan ikan semakin meningkat, sehingga menimbulkan pencemaran danau.
“Banyak para pengusaha yang menanamkan modal di Danau Maninjau. Makanya dengan kondisi seperti itu saya sedikit pesimis, jadi agak sulit untuk dilakukan eksekusi,” jelasnya.
(Bryan)
