Solok Selatan, KABA12.com — Banjir bandang yang menghantam empat jorong (dusun) di Nagari Pakan Rabaa Tengah, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat mengakibatkan ratusan rumah dan jalan tertimbun lumpur dan batang kayu yang terbawa banjir.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Wali Nagari Pakan Rabaa Tengah, Zulfikar Erawandi.
“Banjir ini datang tadi malam saat kami sedang rapat di Masjid Darus Salam. Tiba-tiba suara gemuruh dari sungai, akhirnya saya bubarkan rapat itu dan menghubungi camat, polsek dan koramil bahwa telah terjadi banjir bandang di tempat kami,” ungkapnya, seperti dikutip okezone.com, Jumat (15/09).
Banjir bandang yang terjadi pada pukul 20.30 WIB itu mengakibatkan sekira 300 rumah dipenuhi air dan lumpur setinggi 75 sentimeter. Tak hanya itu, jalan lintas Sumatera pun penuh lumpur setinggi 4o sentimeter.
“Kami butuh alat berat untuk membersihkan jalan agar bisa akses. Selain itu juga mesin kayu untuk memotong kayu-kayu yang telah menutupi saluran air di bawah jembatan,” tambah Zulfikar.
Selain itu, hal yang dibutuhkan korban banjir saat ini adalah bantuan makanan untuk para korban banjir bandang yang rumahnya rusak dan dipenuhi lumpur. “Ada memang rumah warga yang mengalami rusak berat setelah dihantam gelondongan batu-batu dan kayu, tapi kita masih melakukan pendataan,” terangnya.
Menindak lanjuti kejadian tersebut, pemerintah kabupaten dan provinsi langsung terjun menurukan bantuan berupa terpal, selimut, tikar untuk tempat tidur warga. Selain itu pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Solok Selatan untuk membuat dapur umum.
“Makanan masyarakat sudah basah serta alat masaknya sudah tertimbun lumpur. Belum kami ketahui korban jiwa namun tim BPBD dan DPD terkait sudah datang sejak tadi malam,” katanya.
Menurut Zulfikar, daerahnya sebenarnya sudah puluhan tahun terbebas dari banjir bandang. Banjir bandang terakhir kali saat ia masih anak-anak. Namun saat ini, kondisi lingkungan di sekitar wilayahnya memang memprihatinkan. “Kami butuh normalisasi sungai, sebab sudah banyak terjadi pendangkalan,” tuturnya.
(Dany)
