Bukittinggi, KABA12.- Kepedulian dan solidaritas sesama insan pers ditunjukkan wartawan di Kota Bukittinggi yang secara spontan menggelar doa bersama untuk keselamatan lima orang wartawan yang hilang jejak di perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas jurnalistik dalam peliputan kebencanaan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Aksi solidaritas tersebut menjadi bentuk dukungan moral sekaligus kepedulian terhadap sesama jurnalis. Para wartawan Bukittinggi berkumpul di kawasan Jam Gadang, Minggu (13/09) sore.
Doa bersama berlangsung dalam suasana penuh keprihatinan disaksikan ratusan wisatawan yang memadati Jam Gadang. Turut hadir Ketua PWI Bukittinggi, Asrial Gindo, Kepala Stasiun RRI, Abdul Ghafar, Ketua BPC, Al Fatah.
“Wartawan menyadari bahwa di balik setiap informasi yang sampai kepada masyarakat, terdapat perjuangan dan tanggung jawab besar para jurnalis yang bekerja langsung di lapangan, termasuk ketika harus berada di wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi,” kata Kepala Stasiun RRI, Abdul Ghafar.
Ia mengatakan aksi solidaritas merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan sekaligus penghormatan terhadap perjuangan wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Menurutnya, wartawan memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat, terutama dalam situasi bencana. Namun di sisi lain, tugas tersebut juga memiliki tantangan dan risiko yang tidak ringan.
Abdul Ghafar menegaskan, keselamatan wartawan harus menjadi perhatian bersama karena jurnalis merupakan bagian penting dalam rantai informasi kebencanaan.
Sementara itu, Ketua PWI, Asrial Gindo, menyampaikan keprihatinan sekaligus harapan agar proses pencarian terhadap lima wartawan tersebut terus dilakukan secara maksimal.
Menurut Asrial, profesi wartawan menuntut keberanian, ketekunan, dan tanggung jawab. Dalam menjalankan tugas, wartawan sering kali harus berada di lokasi yang memiliki kondisi tidak menentu demi mendapatkan informasi yang akurat dan dibutuhkan masyarakat.
“Solidaritas ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap sesama wartawan. Kita sama-sama berdoa agar kelima rekan kita segera ditemukan dan diberikan keselamatan,” ujar Asrial.
Ketua Bukittinggi Press Club (BPC), Al Fatah, mengatakan aksi doa bersama tersebut lahir dari rasa persaudaraan dan kepedulian sesama wartawan.
Menurutnya wartawan tidak hanya bekerja menyampaikan berita, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memberikan informasi kepada masyarakat ketika terjadi bencana.
“Ketika seorang wartawan turun ke lapangan, ada tanggung jawab besar yang dibawanya. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat, tetapi keselamatan tetap menjadi hal yang utama. Hari ini kita berkumpul dan berdoa sebagai bentuk solidaritas sesama insan pers,” kata Al Fatah.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi pengingat bersama bahwa tugas jurnalistik, khususnya dalam peliputan kebencanaan, membutuhkan kesiapsiagaan, kehati- hatian, serta dukungan terhadap keselamatan para jurnalis.
Aksi spontan wartawan Bukittinggi tersebut sekaligus memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan di kalangan insan pers.
Perbedaan media dan tempat bertugas tidak menjadi penghalang untuk saling memberikan dukungan ketika seorang rekan seprofesi menghadapi situasi sulit.
Doa pun dipanjatkan agar kelima wartawan yang hilang jejak di Laut Sunda segera ditemukan dalam keadaan selamat dan kembali berkumpul dengan keluarga.-
(Ophik)
